Jetorbit Web Hosting

Novel. Bagian 1. Awal

Awal.

Sebuah ruangan di pojok gedung ini tetap menyala, terdengar ada aktivitas di dinginnya pagi. Disudut selasar, terlihat jam mengarahkan jarumnya pada pukul 03.40. Nyala lampu ruangan itu sangat mencolok, berbeda dengan ruang sebelahnya yang temaram dan gelap. Terdengar suara hentakan tuts keyboard yang sangat cepat dan sesekali terdengar deheman seorang pria. Ruangan ini layakya sebuah indekos, tidak besar, fungsional untuk satu orang.

Tampak ia mengelap tanggannya ke permukaan meja kayu itu, basah karena memiliki faktor kemungkinan palmar hyperhidrosis. Laptop dipangkuannya pun kerap bergoyang terkena tenaga ketukan keyboard yang mungkin membuat umur keyboard itu tak lama. Duduk dikursi lipat berbahan besi yang berwarna hijau tua itu membuatnya sedikit membungkuk. Besar badannya dan berperawakan layaknya tentara itu membuat kesan minimalis. Dikirinya berdiri secangkir gelas kopi yang terlihat ceceran ampasnya.

Kamar ini memiliki jam digital yang ada diatas dinding dengan lampu merah menyala layakanya masjid. Norak, itu kata temannya. Untuk disiplin, itu kata sanggahan Dhika. Naasnya kali ini kata disiplin sedang tidak akur dengannya.

Jetorbit Web Hosting

Samawa

Bismillahirrahmanirrahim.

ditulis dari dalam kamar yang disediakan mertua untuk tamu nan jauh dengan single window terbuka menghadap pegunungan jalur Bima-Sumbawa. Ciamik.

Nama

Mungkin bagi sebagian orang tua, nama anak bisa diberikan dari apa saja yang “terlihat” baik dan yang terdengar layaknya lantunan arab. Saat wisuda 2017 lalu, ada wisudawati dengan nama “mawaddah wa rahmah” serentak seisi ruangan Grha Sabha Permana tertawa, lucu. Lucu karena nama ini biasa digunakan untuk memberikan ucapan selamat kepada pengantin. Namun sebenarnya maknanya bagus.

Read moreSamawa

Jetorbit Web Hosting

Luar

Rasa rasanya ini kali ke empat ke tanah ini. Tanah dimana ajang balapan kuda dijadikan sebagai tradisi dan hiburan bagi penduduknya.

Siang disini menyengat saling menerpa kulit kami, hingga sore muncul dengan angin musim kemaraunya yang membuat malam dingin tak berawan.

Kehidupan masyarakat sini masih menyisakan kejayaan akan dunia manual era tahun 90-an, walau telah hidup berdampingan dengan kemodern-an yang hidup bersebelahan.

Pembawa hasil bumi ke pasar pun masih terlihat beberapa dengan “cidomo”, kuda dengan penarik gerobak yang berisikan barang maupun manusia.

Terlihat dengan jelas, karena sayapun datang selang tahunan, bahwa ada gerakan peremajaan daerah dan tata kelolanya. Perapihan infrastruktur dan pemoderan-an berbagai alat pendukung.

Mungkin karena dana yang terbatas, atau mungkin karena kurangnya pengaturan pada tingkat atas (birokrasi) yang rumit, sehingga pengembangan ini terlihat lambat.

Sektor wisata disinipun masih enggan. Enggan untuk memasarkan alam wisatanya, enggan untuk mempersiapkan daerah wisatanya. Padahal, potensinya sangat bagus.

Seperti layakanya daerah “pinggir” lainnya, dimana sentuhan akan “perintah” dianggap akan “melukai” yang ingin ditertibkan. Takut karena “tidak enak” ini yang masih membuat daerah lambat untuk bisa “bersih-bersih”

Sistem Rolling pegawai pemerintahan sepertinya bisa digunakan. Walau tidak bisa semua jabatan di rolling. Hanya untuk sekedar melakukan gerakan “mendobrak” rasa ketidakenakan tersebut. Namun tetap dengan pendekatan persuasif sosial.

Bicara sosial, introvert sangat anti hal ini. Obatnya hanya satu, jalankan saja.