Basahnya Kota “Raja”

Seminggu penuh dilewati sudah tanpa adanya absen air langit menyentuh tanah kota “raja” ini disetiap malamnya. Entah itu hanya menyapa dengan hujan ringan pun juga dengan derasnya bongkahan air langit ini hingga pagi menjelang.

Hujan adalah anugrah. Anugrah dari ilahi yang sepantasnya kita bersyukur karenanya. Namun banyak beberapa lokasi dewasa ini yang tidak sanggup menahannya, entah karena akibat dari ulah tangan manusia masa lampau atau memang sudah saatnya.

Terkadang, hujan menimbulkan rindu. Rindu akan suasana. Suasana yang akan membawa kita pada masa sebuah singkong hangat yang ditawarkan oleh ibunda teman sangat nikmat disantap. Suasanya dimana setiap insan pasti memiliki momen yang diingat dikala hujan mendera. Saat-saat dimana pedagang ote-ote dikerumuni oleh bocah-bocah yang istirahat dari bermain bola di derasnya hujan.

tawa-hujan

Lain pulau, beda cerita. Hujan orang rumahan bersuara kan seperti intonasi “ZZZ”. Beda halnya dengan suara hujan yang jatuh di tanah lapang yang hanya berisikan pohon jati, pohon minyak kayu putih dan luasnya lapangan sepak bola. Yap, Zaytun. Yang kamu dapatkan saat hujan adalah intonasi rendah dari suara “ZZZ” tanpa adanya tambahan amplifier. Lapang, syahdu dan rindu.

Redanya hujan meninggalkan bekas. Oh itu pasti kawan, hingga langit rumah yang belum genap 1 tahun ditempati pun sudah mulai melihatkan flek hitamnya. Hewan rumahan pun mencari tempat berteduh, bergemul dengan bulu yang ada untuk menahan dinginnya hujan.

Yang kuingat dulu di kota dengan masih menjalankan sistem kekerajaan ini saat bermandikan hujan adalah ketika berlari dengan belalang tempur menuju utara kaliurang. Sepanjang jalan, rintik pun tak kuasa menahan dorongan bongkahan rintik besar untuk turun menyerbu sepasang pemuda pemudi yang sedari tadi tolehan kepalanya, kiri kanan mencari warung jas hujan. Ntah apa yang ada di pikiran pemudi, sang pria bergegas memutar otak untuk satu tujuan, makan. Perut kosong dalam kedingingan akan menimbulkan halusinasi yang berlebih dan mual serta berbagai macam penyakit derivatif lainnya yang bisa mengakibatkan lumpuhnya ekonomi dunia permahasiswaan.

Negri Lorosa’e

Setiap permulaan terkadang butuh usaha dan kemauan yang keras nan gigih. Begitu juga yang terjadi pada sosok bapak. Demi mempertahankan idealisme akan kehidupan anak dan istri, dia pun rela memboyong keluarga ke yang sekarang menjadi negri seberang, Timor Leste. Dulu dikenal Timor-Timur dengan ibukota yang masih Dili.

Sejujurnya, kawan, tak begitu banyak yang bisa kuraih ingatan mengenai ini. Namun terkadang saat tiba waktu lebaran dan keluarga berkumpul, Ibu pun bisa saja mulai menceritakan masa lalu.

Balik ke tahun 1994, tepatnya Februari, dimana tahun dan bulan ini keluar saudara kandung. Tempat ini memang terkadang tepat jika dibilang sebagai surga yang belum jadi. Hembusan angin hangat menerpa dengan selaras pandang pantai noda-noda biru yang terus kupandangi sewaktu kita, ibu bapak dan adik baru menyisir pantai. Debu jalan pasir yang masih belum tersentuh aspal. Terlihat coklat kuning, seakan meminta air.

Rujak, ya potongan buah dengan olahan kuah kacang nan manis ini menjadi penolong kita untuk mengisi waktu selagi berteduh. Sesekali angin panas menerbangkan pasir-pasir halus yang mengubahnya jadi miniatur angin topan. Indah, tenang dan elok. Dihiasi pepohonan sejenis cemara kering dan rumput ilalang setinggi hampir satu meter yang telah kuning meranggas.

Piknik keluarga seperti ini acap kali terjadi di akhir pekan saat sang bapak berada di rumah tidak di situs proyek. Oh ya, banyak cerita menarik tentang kejadian proyek ini yang diceritakan sang bapak. Nanti, sabar, pasti diceritakan.

timor-leste

Lebaran adalah momen besar bagi kami, mungkin juga kalian. Lebaran tahun 2012, dihabiskan oleh bapak untuk bercerita mengenai masanya dulu saat di Timor Leste. Kembali ke masa itu, masa yang dibilang masa hectic bagi keluarga kecil keturunan Jawa yang tinggal di ujung timur Indonesia. “Kamu ga perlu ngerasain kerasnya jadi lulusan S1 sarjasana teknik sipil lagi, yang berat-berat kebanyakan sudah di selesaikan di jaman  bapak. Buka lahan, adu argumen dengan pemilik lahan, nge-bom bukit, itu semua sudah lewat. Dulu, waktu pulang dari site, kiri kanan terbentang bukitan batu karas yang jika siang itu putih, tapi malam itu berdiri para pembela kebebasan tanah timor leste. Menenteng senjata yang jika dilihat sekilas mirip AK-47, dengan hanya mata yang terlihat, semua kepala tertutup seperti ninja. Selama perjalanan pulang, hanya ingin bisa lihat matahari pagi saja.”