Hening Hujan

Malam memang akan semakin larut, namun pikiran tak kan. Tuan otak akan terus meletupkan irama dan gelombang gelombang, menari nari di lingkar luar kepala, bertanya-tanya, apa yang akan terjadi esok.

Ah, belum kubilang, malam ini, rintik hujan membasuh bumi. Sepertinya diatas sana seraya ikut menyambut bulan akhiran “..ber” ini. Ntah, apa yang terjadi di luar sana. Apakah panas bumi mulai “adem”, ataukah ini justru gejalanya? Andai ku tau.

 

Ntah apa pasal, setiap kali air jatuh ke bumi pertiwi, kali itu juga muncul siluet sensasi, aroma dan kenangan yang seakan terus berputar bak roll film jadul. Silih berganti disetiap hembusan nafas. Seakan ingin menerjang memori itu dan kembali ke masanya.

Dingin malam semakin menjadi. Mengingatkan pada masa silam. Tidak terlalu silam, hanya muncul 5-10 tahun. Ya kamu, mau dengar cerita mana dulu? Ah mungkin ada baiknya cerita tentang ibu kota? tentang ibu tiri yang menyamar menjadi ibu kota? baiklah. Duduk dan hening.

Negri Lorosa’e