Renungan Subuh

Terlalu banyak manfaat di waktu subuh. Salah satunya bisa berpikir lebih jernih. Bisa melatih alur logik yang baik. Terkadang semangat menggebu jika membahas suatu bisnis. Bisnis yang mempekerjakan banyak orang, yang membawa keberkahan luas.

Ada cerita yang bisa dijadikan pelajaran. Dulu, sekitar tahun 2011an, masih dalam masa KP (kuliah praktek), KP di Indosat yang berkantor di bundaran patung kuda. KP dulu minimal satu tim nya 2 orang. Kebetulan teman sya ini punya koneksi ke Indosat yang bisa dijadikan tempat berlabuh KP kita. Selagi menunggu officer yang berwenang mengurus tugas ini, kita ngobrol, killing time.

“Lang, petinggi-petinggi sini pada rajin shalat lho”
“Ah masa?”
“Lo liat aja ntar”

Memang pas datang masuk ke ruang tunggu, kita melewati ruang musholla dan tempat wudhu. Waktu itu sya pikir, “ah umum lah ada musholla di kantor” tapi ternyata tidak, tidak banyak kantor yang menyediakan musholla per lantai!
Menunggu, 2 jam pun terlewat, dan akhirnya yang ditunggu muncul, ternyata beliau baru saja rapat ketika kita datang. Saat sedang berbincang, tiba-tiba azan zuhur menggema di seluruh isi lantai ini. Ya, azan dari pengeras suara yang menempel di atap. Ini hal yang sangat jarang terjadi pikir sya waktu itu. Kita langsung di ajaknya shalat, tanpa ba bi bu. “Betul”

Setelah shalat, dan urusan administrasi selesai yang di warnai dengan adegan memberikan kontak dengan kartu XL padahal KP di Indosat :D, kita lanjut ke lantai lebih atas. Lantainya para pendekar dengan sertifikat tertinggi di dunia Jaringan, CCIE. Just for info, sertifikasi ini hanya di pegang oleh puluhan orang di Indonesia. Masuk ke lantai ini seperti halnya lantai yang tadi, ada musholla, namun lebih sedikit orang, hanya sekitar 5 orang saja. Yang lain di lapangan.

Hari pertama KP, sudah langsung ketemu dengan orang teknisi, ini artinya KP bisa lebih cepat selesai, mantab pikir saya hari itu. Ternyata orang yang kita temui bukan sembarang teknisi. Dari 5 orang di ruangan itu, 3 diantaranya pemiliki sertifikat CCIE dengan jam terbang yang sudah hampir 1 dekade. Salah satu dari 3 orang tersebut mengajari kita, mentoring, memberikan puluhan slide presentasi dengan gratis yang mungkin tidak ada di Internet, serta mendikte kita ini itu.

Tak terasa azan ashar berkumandang, sama seperti lantai dibawah, seluruh ruangan ini bersuarakan azan. Hebat. Dan perlakuan orang di dalam lantai ini juga sama, segera wudhu. Kata kata teman sya ini terus berulang dan termaktub di pikiran sya “Petinggi-petinggi pada rajin shalat” , kata kata conclusion tanpa memperlihatkan perjuangan apa yang mereka telah lewati dan ingin mereka capai. Pikir saya waktu itu hanya satu “Hebat!”
Lain kantor, lain cerita, KP telah usai, datanglah skripsi. Skripsi ini kita memilih tempat di PT Waskita Karya. Tempat yang awalnya tidak ada hubungannya dengan perkuliahan sya. Namun kita mencari permasalahan disana, ternyata ada. Mereka langsung setuju di hari awal kita datang, Alhamdulillah. Skripsi berjalan hari demi hari. Pada suatu momen, sya lupa tepatnya, kita sedang build tahap akhir pada jaringan, Testing. Ada sebagian port switch khusus yang kita bypass untuk beberapa petinggi di bagian divisi gedung, divisi yang menangani suatu proyek yang berkaitan dengan pembangunan gedung. Oh ya, apa yang kita lakukan juga bertempang di lantai divisi gedung ini. Petinggi disana yang ingin bypass akses adalah 2 orang bidder tender yang akan mereka ikuti. Awalnya biasa saja, namun ketika proses bidding tender ini memasuki waktu waktu terakhir, keadaan mulai memanas. Cie.
Huru hara kecil terjadi di tempat praktek ilmu kami, waktu kala itu menunjukkan sekitar pukul 17.45 dan sya tau dengan pasti azan akan segera berbunyi. Yang bisa sya dan teman lakukan hanya melihat mereka sibuk koordinasi sana sini mengenai tender. Sambil melihat grafik laporan QOS jaringan untuk memastikan keadaan aman saat proses bidding tender ini berlangsung. Azan menggema, sya dan teman izin ke musholla, kali ini disetiap lantai ada mushollanya juga. Hebat! Musholla cepat ramai. Tapi sya tidak melihat 2 orang officer yang sedang melakukan bidding tender, ah mungkin sibuk, padahal Yang Punya Kuasa sudah memanggil. Setelah shalat, betul, mereka masih sibuk, telpon sana-sini. Whiteboard besar kembali dicoret-coret mengganti sejumlah angka-angka. Tak terasa waktu maghrib terlewat. Mereka melewati waktu shalat. Naas. Tender pun tidak mereka dapatkan, proses tender ini berakhir pukul 20.00 menurut informasi officer lainnya.

Kedua momen ini menjadikan pelajaran buat sya yang ingin sya bagikan. Jangan tinggalkan shalat satu kali pun setelah kita dinyatakan telah baligh. Ternyata orang “Sukses” itu ga pernah lepas shalatnya.
Shalat menghindari dari bala. Kenapa begitu? karena disetiap shalat kita membaca Al-Fatihah. Kenapa sih baca surat Al-Fatihah disetiap shalat dan itu wajib? Coba baca kembali artinya. Ada kalimat memohon disana:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus”
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”

Disetiap shalat, kita berdoa untuk di berikan hal-hal yang baik, yang meluruskan niatan niatan kita, yang jika kita butuh modal untuk usaha itu diberikan jalan yang lurus, jalan yang mudah, tidak perlu riba sana-sini. Dengan shalat niat kita akan berubah menjadi di jalur yang lurus., InsyaAllah.
See, powerfull sekali surat Al-Fatihah. Lebih powerfull jika di bacakan setiap 5 waktu shalat, 7 hari dalam seminggu, 365+ dalam setahun. Mari kembali menjalankan apa yang seharusnya kita jalankan secara agama dan diaplikasikan dalam ilmu.