Jetorbit Web Hosting

Upcoming

Belum lepas lelah ini menempel, matahari telah kembali ke peraduannya, semburat cahayanya menyeruak masuk melalui untaian sisa air hujan semalam di dedaunan yang tumbuh mempesona tanpa rintangan di depan rumah.

Hari itu, hari rabu. Walau subuh tetap wajib ke masjid, namun ba’da subuh tetap tidak bisa terjaga. Sunnah nabi pun terlewat oleh kantuknya mata.

Terlihat lelap tertidur dalam buaian angin pagi yang sejuk, bocah balita itu memposisikan badannya miring kiri dengan kaki yang hampir lurus berbaring, layaknya bagan huruf X besar yang disangga oleh guling dan bantalan. Nyenyak, lelap.

Walau terasa berat, memang sudah sewajarnya kaum pria menangani hampir seluruh keputusan. Baik dalam rumah, urusan keluarga maupun diluar, urusan kantor maupun kerjaan.

Memang betul, tak jauh dari keluarga adalah hal yang nikmat, namun dalam kenikmatan, ada ujiannya tersendiri. Manusia tak luput dari ujian.

Percayalah, menjadi pekerja yang bekerja dirumah dengan mengurus bocah, sungguh sangat tidak mudah. Stock kesabaran harus ada setiap saat, ready stock, JIT jika perlu!

Jetorbit Web Hosting

Carry You On

Boy, mendidik itu sangat, sangat sulit.

Bukan berarti sulit karena objek nya keras.

Namun, karena prosesnya panjang, melelahkan dan melatih kesabaran.

Sedangkan kesabaran tidak dapat di beli, tidak tersedia di tokopedia atau bukalapak.

Tidak semua yang kondisi yang kau harapkan “nyaman” bisa kau temui.

Namun kondisi nyaman akan kau temui terkadang ketika justru situasi tidak mengenakkan. Ada secercah pelipur lara untuk para pendidik ditengah kesibukan.

Jetorbit Web Hosting

From Now On

Sepertinya, dunia semakin bergerak cepat.
Apakah memang begitu?

Sepertinya, mengejar ketertinggalan bukanlah hal yang mewah.
Semua manusia mengejar itu.

Banyaknya view pada video motivasi menandakan beberapa hal.
Manusia membutuhkan contoh
Menusia membutuhkan pendukung
Manusia itu malas. Lebih suka cerita dengan happy ending dari pada mengejar impiannya dengan peluh.

Katakan. Kita perlu mengatakannya dengan lantang apa yang sedang dan akan diperjuangkan. Sudah bukannya era hanya menulis harapan pada secarik kertas dan menempelkan di dinding, namun harus diraih, dikatakan dengan keras, diperjuangkan dengan peluh.

Memang dunia sekarang lebih cepat bergerak.
Semua sudah nearly instant.

Tapi, apakah kita bisa mengejar itu. Apakah kita tipe orang yang mengejar ketertinggalan dan menjadi pioneer atau kita kita orang yang hanya melihat dan ikut saja serta mencari aman.

Katakan TIDAK! dengan keras!

Sudah cukup panjang kita menjadi tamu dirumah sendiri. Kita dijadikan raja semu dihadapan produk luar. Kita harus terus bergerak, LEBIH CEPAT.

Jetorbit Web Hosting

SCALE UP VS BONSAI By Mardigu Wowiek

Scaling-up atau membesarkan bisnis setelah sebuah perusahaan baru atau UKM mencapai “product-market fit” adalah tantangan terbesar pengusaha.

Terdapat data di amerika bahwa 75% perusahaan baru berdiri gagal karena tak mampu membesarkan diri (premature scaling) alias layu sebelum berkembang. Dan di asia lebih tinggi lagi yaitu 80% perusahaan muda gagal kembang.

Ini masalah mindset kah? Bisa jadi, karena apa yang kita katakan adalah doa. Misalnya di Indonesia kita nyeleneh minggir dulu ke sesuatu yang mungkin tidak ada hubungannya tetapi relevan untuk bahan pembanding.

Ada sebuah partai yang memiliki “kata-kata” menarik. Partai ini partai besar di Indonesia. Namun tag line nya lucu, partai wong cilik. Dari kalimat tersebut partai ini seakan memang tidak menginginkan para konstituennya menjadi “orang besar” kali ya? . Karena kalau jadi orang besar, partainya moksa, bisa hilang jangan-jangan 

Jadi cita-citanya akan membuat pemilihnya selalu kecil, cilik terus. Herannya kok bisa 18% memilih mereka ya? Kenapa sih ngak mau jadi partai scale up?

Dalam bisnis sekarang, Sahabat saya pimpinan TDA tangan di atas , mas Bara, dengan kekuatan 100.000 orang berusaha keras membawa scaling up komunitasnya, cita-cita mulia sekali. Ini khan berlawanan kalau melihat tag line partai dengan TDA hehehe. Untung yang satu adalah pembangun ekonomi si TDA sementara si partai yang ingin konstituennya cilik terus bukan pembangun ekonomi, hanya pembangun kekuasaan.

Balik lagi ke awal tulisan tentang mengembangkan diri, sebagian besar UKM adalah “perusahan bonsai” karena sepanjang hidupnya kecil terus tidak pernah membesar karena tak tahu dan tak mampu melakukan scaling-up.

Ini tantangan terbesar pebisnis pemula, bagaimana berkembang dan tidak terbonsai, kecil terus.

Apa rahasia suskes sebuah scaling-up? Ada dua prasarat dasar di tinjau dari sisi internal dan eksternal perusahaan. Pertama secara internal, bisnis yang kita bangun harus memiliki skala ekonomi (projected economies of scale). Kedua secara eksternal, ia harus memiliki pasar yang cukup besar (large addressable market) untuk tumbuh.

Nah disini kita mulai masuk ke dalam bisnis secara rinci. Pemahaman berbisnis seseorang pemula harus meningkat dari sekedar jualan dan mengelola (manajemen) perusahaan menjadi membuat skala keekonomian.

Saya faham tulisan bisnis tidak popular di Indonesia. Peminatnya sedikit sekali. Namun saya percaya banyak sahabat yang ingin makmur, jadi saya terus banjiri dengan informasi beginian, boleh?

Economies of Scale adalah sebuah perhitungan bisnis yang bisa massif membesar atau bahasa lainya Skala ekonomi terjadi jika biaya per-satuan (unit cost) turun jika output perusahaan bertambah besar. Bisnis yang mengalami hal ini disebut bisnis tersebut: scalable.

Seperti misalnya bisnis computer dan dunia internet. Semakin banyak yang beli, semakin banyak yang pakai, biaya produksi semakin turun persatuan unitnya.

Misalnya flat screen TV di awal keluarnya harga TV 42 inci bisa Rp 20 juta, sekarang ukuran yang sama bisa hanya 4 juta perunitnya. Laptop, mobil, dan banyak lagi scalable bisnis semacam ini.

Disisi lain misalnya warteg, ongkos nya flat. Satu piring modal 5000 jual 15.000. ketika 1000 pring, tetap sama modal 5000 juga. Bahkan naik karena perlu ruangan ektras, malah bisa jadi 6000 modalnya.

Umumnya professional services seperti guru, pengacara, konsultan, atau pembicara/motivator tidak scalable atau sulit di-scaling-up.

Faktor kedua adalah market size atau addressable market. Bisnis Anda tak akan bisa besar jika market size dari industri yang Anda masuki kecil. Karena itu agar bisa scaling-up, Anda harus memastikan bahwa total potensi market size yang bisa diambil harus sangat besar.

Kita beri contoh ya? Karena contoh ini harus di pahami dari pengelola Negara sampai ibu rumah tangga. Kalau pengelola Negara ngak faham scaling up, bisa-bisa perkembangan ekonomi di arahkan ke sesuatu yang bonsai semua. Bahkan regulasi saat ini banyak yang membonsai pengusaha sehingga tidak bisa scaling up, dan masih ngak nyadar juga yang membuat bangsa Indonesia di jajah ekonominya oleh asing, eh malah pada sibuk bagaimana 2019 berkuasa. Lanjut? #MMBCIVJOGJA#peace

Sumber : https://www.facebook.com/mardigu.wowiek/posts/10210253391832708