Keren itu memang beda

Keren itu, bisa memberi lebih. Ustadz Adi Hidayat, yang berprestasi akan diberangkatkan umroh, bagi-bagi perangkat quran dan buku pendukungnya.

Keren itu, bisa berbagi ilmu seluas luasnya tanpa pernah berniat untuk mengambil keuntungan, murni ikhlas karena ingin memajukan bangsa.

Keren itu, berkualitas. Semuanya murni karena ibadah. Bukan hanya ibadah di masjid, namun dalam arti luas.

Wallahi

Ya Rab, mudahkanlah hambamu yang hina ini agar termasuk orang-orang keren ini, yang selalu dijalanmu.

Amin

Bisnis itu candu

Kata siapa bisnis itu mudah? Oh kata pembawa materi yang memang bisnisnya jualan cakap? hihi.

Bisnis itu susah. saya termasuk yang ngeyel menganggap gampang sebuah bisnis. apa lagi prosesnya.

Makin kesini tidak semudah itu pak!

Semua aksi adalah tanggung jawab owner, ini yang buat candu.

Ga berhasil langkah ini, coba lagi langkah itu, dan seterusnya.

Kelakar Perjalanan

Bandiwdth Killer Warning!

Kami terperangah dalam perjalanan ketika melihat jalan didepan sangat menukik, hampir-hampir 90 derajat. Dengan motor vario punya istri, kami gas saja untuk menuju Puncak Suroloyo. Kala itu tahun 2013. Google maps masih gelap. Alias belum mencapai daerah terpencil di sudut bukit ini. Alhasil jalan yang kami lalui sepi, mungkin karena terjal ini.

Lama tak bersua dengan kamera, foto diatas mengingatkan bahwa dulu pernah, sangat sering menenteng Nikon d7k hanya untuk melatih insting jepret. Walau foto diatas diambil oleh Canon. Banyak foto yang masih dengan format raw (.NEF) yang Alhamdulillah sekarang bisa preview oleh windows 10 tanpa install software tambahan.

Sekian tulisan ringan ini.

Mencoba PBN Private

Setelah sebelumnya terkena hadiah “banned” oleh Google adsense, maka jadilah website website niche home ikut ditendang.

Saat ini masih adsense yang paling menguntungkan dalam dunia CPC. Setelah banned, mencoba submit website ke CPC/CPM sejenis seperti adsterra dan lainnya, tetap jauh revenuenya di banding adsense.

Kali ini web-web yang metric nya masih bagus akan saya coba jadikan PBN dengan catatan bahwa :
– konten masih akan tetap sama
– konten PBN akan dibuat di post
– link keluar akan di minimalisir sekitar 30-40% dari total link keluar dibandingkan dengan link ke web moneysite

Ini untuk catatan saya agar mudah mengingat bahwa ada PBN aktif ;P

Setup pengiriman email di laravel 5.7

Di laravel 5.4 keatas, email dijadikan object untuk pengiriman.
Referensi https://laravel.com/docs/5.7/mail

Mari kita setup.

  1. pastikan bagian email di file .env telah terisi

2. Buat mailable
# php artisan make:mail EmailKu

setelah ini akan tergenerate class untuk email di folder App\Mail\Emailku

Edit class EmailKu.php
fungsi from() bisa ditambahkannya di class email

3. Case saya ini tidak menggunakan routing, alias saat pendaftaran, langsung kirim email, jadi setelah funsi save() akan kirim email.
Di controller bisa buat seperti ini

4. Buat view email ini. contoh

5. Tips, setelah mengedit .env jangan lupa :
#php artisan config:clear

sekian.

Era 1998

Waktu itu menjajaki SD kelas 3 atau 4. SD Inpres itu berada di Kupang di dekat perumahan BTN. Ya tahun itu saya dan keluarga tinggal di kupang, total 6 tahun lamanya.

Walau hari guru telah lewat, ada baiknya saya ceritakan hal ini untuk dijadikan pelajaran bagi kita.

Pak Yos nama panggilannya, Guru pengajar kelas matematika dan bahasa ini memiliki kumis yang tebal tanpa jenggot dengan rambut yang cepak khas potongan jaman itu. Beliau tinggal masih dalam lingkup sekolah, masih satu pagar.

Kala itu dalam satu kelas berisi sekitar 40-50 anak, yang bisa kalian tau ributnya seperti apa. Ada yang nangis minta pulang, ada yang minta dibetulkan resleting tasnya yang macet, ada yang lari lari.

Dalam mengajar pak yos terkenal jelas dan tegas. Yang dapat giliran maju dan tidak bisa menjawab, harus siap mental mendapat pendaratan sempurna mistar kayu 1m berwarna coklat di pantatnya. Mistar ini suka mendarat di jari jemari yang hitam dikala ada pemeriksaan mendadak.

Karena metode mengajarnya yang mudah, mendapat rangking diatas 5 adalah mudah waktu itu.

Namun hal ini berubah, (ketika negara api menyerang) ketika perpindahan kelas saat kenaikan kelas, ruang kelas geser ke sebelahnya yang hanya muat 25 orang karena itu juga ruang kesehatan.

Karena hanya sedikit pilihan bangku, yang telat hadir akan duduk didepan. Dapatlah seringnya saya duduk di depan, baris 1 atau 2. Saat Pak Yos sedang melempar pertanyaan, teman sebelah tidur dengan khusyu nya, namanya Yanto atau Anto (lupa). Apa yang Pak Yos lakukan? Ditendangnya meja saya hingga terangkat 45 derajat tanpa tau kesalahannya apa meja tersebut. Dengan planga plongo Yanto bergelimangan air mata, ntah masih ngantuk atau takut. Lesson learn, jangan duduk didepan! (kidding)

Kemudian caturwulan berganti, guru matematika pun bukan Pak Yos lagi, melainkan Bu Lus. Bu Lus ini menggunakan kacamata, dengan usianya yang tua ditambah gigi yang sudah banyak ompong, bagian dagu dan pipinya telah masuk. Namun ketegasan dan kesadisannya tidak berkurang.

Ko sadis? Saya ditempeleng nya dengan keras didepan teman teman saat jam istirahat. Apa sebabnya? tau timbangan yang ada pengukur tingginya? yang angka timbangannya bulet. Nah, karena itu ruang kesehatan, alat timbangan itu ada di sana, saat rehat saya iseng menimbang dan saat mau mengangkat ukuran tinggi, BATANG ukurannya lepas!!! Ucul seketika tanpa saya paksa, seperti pernah lepas sebelumnya. Nahasnya teman saya melihat, dan langsung melaporkannya.

Pulang kerumah ingin mengadukan (seperti kid zaman now), yang orang tua saya khawatirkan adalah berapa biaya ganti alat timbangan itu, bukan pipi mulus yang mendapat pendaratan keras dari Bu Lus! 😀

Baik, akan kita balas Bu Lus dengan telak!

Hari itu hari natal, di kota Kupang mayoritas beragama Kristen/Katolik sehingga banyak yang merayakannya dan menempelkan pernak pernik di depan pintunya. Hari sebelumnya saya diajak ibu untuk membeli berbagai macam kue dan buah, mungkin untuk liburan akhir tahun saya pikir kala itu. Namun ternyata oleh ibu dibuatkan parsel, di iket dan bungkus sendiri waktu itu.

Malam saat tanggal 25 kita sekeluarga diajak jalan keliling dengan mobil untuk menikmati liburan, saya diminta bawa parcel oleh ibu. Buat apa bawa-bawa parcel pikir saya. Tapi arah mobil bukan ke kota, namun ke arah masuk lebih dalam perumahan. Dan mobil berhenti di gang yang buat merinding. Ibu saya berujar “Sana, kasihkan parcelnya ke Bu Lus!” Jeder!!!!

Setelah 15 menit di dalam mobil berargumentasi dan sambil menyiapkan kata-katanya, saya beranikan diri berlari kecil ke rumah Bu Lus. Rumah itu sederhana dengan pohon tinggi di samping kiri pagarnya yang membuat sejuk. Pintu bertempelkan hiasan bell dan pernah pernik lampu itu saya ketuk 3 kali. Keluarlah Bu Lus dengan cirinya.
Dengan mata melongo, di peluknya saya sambil berongkok yang sudah takut ada pendaratan lagi, namun kali ini pendaratan ciuman di kedua pipi. Dengan mengusap air matanya sambil mencopot kacamatanya dia berujar, “terima kasih lang, terimakasih” logat ke nenek-nenekannya dicampur dengan logat timur khas.
Karena orang tua menunggu di mobil, ajakan Bu Lus untuk masuk ke rumahnya saya tolak dengan senyuman.