Era 1998

Waktu itu menjajaki SD kelas 3 atau 4. SD Inpres itu berada di Kupang di dekat perumahan BTN. Ya tahun itu saya dan keluarga tinggal di kupang, total 6 tahun lamanya.

Walau hari guru telah lewat, ada baiknya saya ceritakan hal ini untuk dijadikan pelajaran bagi kita.

Pak Yos nama panggilannya, Guru pengajar kelas matematika dan bahasa ini memiliki kumis yang tebal tanpa jenggot dengan rambut yang cepak khas potongan jaman itu. Beliau tinggal masih dalam lingkup sekolah, masih satu pagar.

Kala itu dalam satu kelas berisi sekitar 40-50 anak, yang bisa kalian tau ributnya seperti apa. Ada yang nangis minta pulang, ada yang minta dibetulkan resleting tasnya yang macet, ada yang lari lari.

Dalam mengajar pak yos terkenal jelas dan tegas. Yang dapat giliran maju dan tidak bisa menjawab, harus siap mental mendapat pendaratan sempurna mistar kayu 1m berwarna coklat di pantatnya. Mistar ini suka mendarat di jari jemari yang hitam dikala ada pemeriksaan mendadak.

Karena metode mengajarnya yang mudah, mendapat rangking diatas 5 adalah mudah waktu itu.

Namun hal ini berubah, (ketika negara api menyerang) ketika perpindahan kelas saat kenaikan kelas, ruang kelas geser ke sebelahnya yang hanya muat 25 orang karena itu juga ruang kesehatan.

Karena hanya sedikit pilihan bangku, yang telat hadir akan duduk didepan. Dapatlah seringnya saya duduk di depan, baris 1 atau 2. Saat Pak Yos sedang melempar pertanyaan, teman sebelah tidur dengan khusyu nya, namanya Yanto atau Anto (lupa). Apa yang Pak Yos lakukan? Ditendangnya meja saya hingga terangkat 45 derajat tanpa tau kesalahannya apa meja tersebut. Dengan planga plongo Yanto bergelimangan air mata, ntah masih ngantuk atau takut. Lesson learn, jangan duduk didepan! (kidding)

Kemudian caturwulan berganti, guru matematika pun bukan Pak Yos lagi, melainkan Bu Lus. Bu Lus ini menggunakan kacamata, dengan usianya yang tua ditambah gigi yang sudah banyak ompong, bagian dagu dan pipinya telah masuk. Namun ketegasan dan kesadisannya tidak berkurang.

Ko sadis? Saya ditempeleng nya dengan keras didepan teman teman saat jam istirahat. Apa sebabnya? tau timbangan yang ada pengukur tingginya? yang angka timbangannya bulet. Nah, karena itu ruang kesehatan, alat timbangan itu ada di sana, saat rehat saya iseng menimbang dan saat mau mengangkat ukuran tinggi, BATANG ukurannya lepas!!! Ucul seketika tanpa saya paksa, seperti pernah lepas sebelumnya. Nahasnya teman saya melihat, dan langsung melaporkannya.

Pulang kerumah ingin mengadukan (seperti kid zaman now), yang orang tua saya khawatirkan adalah berapa biaya ganti alat timbangan itu, bukan pipi mulus yang mendapat pendaratan keras dari Bu Lus! 😀

Baik, akan kita balas Bu Lus dengan telak!

Hari itu hari natal, di kota Kupang mayoritas beragama Kristen/Katolik sehingga banyak yang merayakannya dan menempelkan pernak pernik di depan pintunya. Hari sebelumnya saya diajak ibu untuk membeli berbagai macam kue dan buah, mungkin untuk liburan akhir tahun saya pikir kala itu. Namun ternyata oleh ibu dibuatkan parsel, di iket dan bungkus sendiri waktu itu.

Malam saat tanggal 25 kita sekeluarga diajak jalan keliling dengan mobil untuk menikmati liburan, saya diminta bawa parcel oleh ibu. Buat apa bawa-bawa parcel pikir saya. Tapi arah mobil bukan ke kota, namun ke arah masuk lebih dalam perumahan. Dan mobil berhenti di gang yang buat merinding. Ibu saya berujar “Sana, kasihkan parcelnya ke Bu Lus!” Jeder!!!!

Setelah 15 menit di dalam mobil berargumentasi dan sambil menyiapkan kata-katanya, saya beranikan diri berlari kecil ke rumah Bu Lus. Rumah itu sederhana dengan pohon tinggi di samping kiri pagarnya yang membuat sejuk. Pintu bertempelkan hiasan bell dan pernah pernik lampu itu saya ketuk 3 kali. Keluarlah Bu Lus dengan cirinya.
Dengan mata melongo, di peluknya saya sambil berongkok yang sudah takut ada pendaratan lagi, namun kali ini pendaratan ciuman di kedua pipi. Dengan mengusap air matanya sambil mencopot kacamatanya dia berujar, “terima kasih lang, terimakasih” logat ke nenek-nenekannya dicampur dengan logat timur khas.
Karena orang tua menunggu di mobil, ajakan Bu Lus untuk masuk ke rumahnya saya tolak dengan senyuman.

 

URGENT!!!

Urgently Needed. Dibutuhkan Co-Founder Jetorbit yang mengerti terkait Marketing

Nilai plus jika paham terkait SEM (Search Engine Marketing/Adwords), SMM (Social Media Marketing)

Punya passion dalam melayani user dan punya jejaring banyak

What you will get? Share, lot of benefit, we grow together until it reach million users.

Please contact di : gilang@jetorbit.com

Ketika Lambung “Manja”

Waktu itu malam, sekitar pukul 20.30-an sepulangnya kami dari weekend walk walk a.k.a jalan jalan minggu. Mobil terpaksa saya tepikan dengan mendadak dari ring road utara yang hampir memasuki jalan utama kaliurang colombo. Tangan ini serasa mati rasa secara tiba-tiba, badan serasa ingin pingsan dan drop. Semua secara tiba-tiba.

Dengan nafas tersengal, melirik Fatih, sudah tertidur pulas lepas bermain hingga lelah. Ibu nya pun panik tidak tau mengapa. Jantung berdegup kencang, tangan mulai kesemutan secara berkala dengan waktu yang singkat. Mulai dari tangan kiri lalu ke kanan. Panik dengan pikiran kemungkinan penyakit jantung. Namun jantung tidak terasa sakit. Badan seperti capek luar biasa, drop, kliyengan, kurang tau istilahnya apa. Belakangan kami tau hal ini kemungkinan penyebabnya dari gula darah yang turun drastis.

Kejadian itu sekitar bulan Maret/April. Memasuki waktu upacara kemerdekaan, yang diadakan dikampung ini pada malam hari tanggal 16 agustus, sensasi itu datang lagi, badan kembali drop, keringat dingin, kaki dan tangan kesemutan, jantung berdegup kencang. Saat itu sedang dirumah dan sedang makan masakan istri, ati semur bumbu kecap. Terbirit lari ke kasur untuk nyender. Istri hanya suruh untuk relaksasi, tarik napas. Tapi jantung terus berburu detaknya. Kesemutan terus menjalar, timbul hilang. Sekitar 30-45 menit mencoba relaks, akhirnya bisa dikontrol juga badan ini. Terasa lelah dan mengantuk. Jurus “blonyoi” dengan minyak kayu putih sepertinya sudah berefek.

Dua kejadian tersebut berujung pada kejadian dibulan september. Hari itu sedang kerja, dikejar deadline. Tiba-tiba sensasi itu muncul. Dada sesak, nafas memburu, jantung berdegup dan kepala muter a.k.a gliyengan. Rasa kesemutan bukan hanya di tangan dan telapak kaki, namun berkala makin naik ke arah dada hingga hampir ke jantung. Semakin lama makin panik, bude, pengurus rumah dan Fatih, saya minta untuk cepat membuatkan teh manis dengan 5 sendok gula. Sesaat kemudian, langsung saya teguk teh manis itu. Namun debaran jantung masih kencang dan kesemutan masih menjalar. Dengan sisa tenaga saya telp istri yang sedang koas untuk memanggilkan ambulan, panik jika ini serangan jantung.

Tak lama bukan ambulan yang muncul, namun Gocar. Dengan sisa tenaga saya segera mengambil tas untuk baju fatih, masukkan HP dan dompet sambil membawa gelas teh manis yang masih tersisa, iya gelas yang dibawa, bukan botol. Saya minta pak sopir gocar untuk ngebut ke PKU Muhammadiyah Gamping. Dalam keterburuan itu, ada sedikit rasa “enakan” kemungkinan gula dari teh sudah menjalankan tugasnya yang dimana teorinya akan muter di tubuh dalam waktu 15 menit. Dengan sigap ngebut pak sopir tadi, tidak sampai 20 menit sudah sampai di PKU. Sampai sana saya hoyong, atau hampir ambruk karena langsung ngibrit ke resepsionis untuk minta ke IGD.
Beruntung ada petugas seperti bagian keamanannya, wanita, yang sigap langsung mengambilkan kursi roda yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Setelah menduduki kursi roda, saya pun di dorongnya dengan cepat kebagian IGD. Disana sudah menunggu istrinya dengan muka, santai. Iya santai! Rada dongkol juga.

Di papahnya saya oleh suster cowok ke kasur IGD. Mulailah pemeriksaan seperti tes tensi, oksidasi atau apalah namanya untuk mengukur kadar oksigen di tangan, dan terakhir EKG yang alatnya membekas seperti bekam namun lebih kecil. Hasilnya semua normal! Normal! Namun belakangan diketahui oleh dokter Agus Sp PD bahwa rekam jantung saat adanya serangan itu memang normal, namun ada RBBB bawaan lahir.

Datanglah diagonsa dari dokter umum yang menjaga IGD waktu itu, dia mengatakan bahwa saya mengalami yang namanya Panic Attack. Melongo, dan dongkol. Dan dia berujar bahwa yang mengalami hal seperti ini bukan hanya saya saja, namun sering dan banyak yang mengalaminya.

Setelah kejadian ini berlalu, hingga saat ini tidak datang lagi efek kesemutan tersebut. Namun penyakit lain datang saat itu, setelah makan sekitar 1-2 jam langsung drop. Badan ngos-ngosan, lelah tak terkira.
Awalnya saya pikir kurang makannya, pas tes darah, glukosa tinggal 70, bahkan pernah hingga 50. Efeknya kepala sudah berasa muter, dunia seakan bakal kelar.

Akibat dari sakit ini, banyak kerjaan tertunda. Dimulailah pemeriksaan ke dokter internis. Dia mengatakan ini efek dari GERD, atau asam lambung yang naik melampaui spinchter yang bertugas untuk mengunci saluran asam agar tidak naik. Namun pada penderita GERD, kunci ini kendor, jadilah naik hingga menekan ke area atas termasuk jantung.

Diberikan obat lansoprasol yang habis ludes dalam 2 minggu, ingin kembali minta resep namun dokter menyarankan untuk stop obat dulu. Tapi ngos-ngosan pasca makan tetap berlanjut. Setelah membaca kembali, kemungkinan ada masalah di pankreas. Cobalah kita pergi ke dokter Endokrin, yang sampai disana malah ditakutkan yang kata dia penyakit tumor pankreas. Namun istri meyakinkan bahwa bukan penyakit itu. Tes lab pun di coba, hasilnya normal, Alhamdulillah.

Dengan segelas air gula yang terus diminum setelah makan, membuat efek pada gigi menjadi sensitif. Air gula ini cara mandiri untuk mengimbangi kadar gula dalam tubuh. Cukup aneh.

Kemudian kita pergi ke dokter Agus internis juga, yang kata istri beliau jago, ujian bersama dia pun susah lulusnya. Setelah ngobrol beberapa menit, diagnosa dia saya kena dumping syndrome dimana usus duodenum tidak menyerap makanan secara sempurna, sehingga makanan langsung meluncur lanjut ke usus besar. Dianjurkan oleh beliau untuk makan setengah sendok makan dan mengunyahnya selama 30 detik. Capek memang, tapi efektif. Pelan tapi pasti, rasa ngos-ngosan pun hilang.

Alhamdulillah.

Duka, Sedih dan Marah

Belum pulih duka bencana Lombok, timbul bencana besar di Palu, Donggala dan Sigi. Gelombang 7.4 SR menghantam permukaan tanah dan laut yang menyebabkan naiknya air laut atau tsunami, hingga meluluh lantakkan manusia dan bangunan yang ada di daerah berdampak.

Ditambah lagi tanah “hidup” yang melumat satu kampung Petobo hilang rata dengan tanah, atau yang disebut Likuifaksi oleh orang geologi. Kejadian tanah bergerak ini menyebabkan hilangnya hampir 1000 orang masuk ke dalam tanah. Innalillahi. Semua karena kuasa Allah Subhanahuwataala.

http://bangka.tribunnews.com/2018/10/06/gempa-palu-kampung-di-palu-ini-bergeser-sejauh-3-km-digantikan-kebun-jagung-dan-kol

Setelah kejadian bencana tersebut, ditambah lagi bencana susulan, yaitu “amukan” sifat manusia dikala datangnya waktu yang sempit. Aksi penjarahan datang dari orang yang bukan korban bencana, banyak yang bilang aksi ini akibat ulah mereka sendiri.

Sedih, masih ada dan banyak acara dan upacara pengorbanan kelaut. Mengorbankan hewan hidup hanya semata mata untuk meminta keberkahan. SALAH! Minta berkah hanya kepada Allah!

Sedih, melihat adanya reporter luar negri berpendapat bahwa kerja pemerintah dikenal lambat menangani hal ini. Entah karena ini lagi bulan kampanye atau ada hal lain.

Dunia banyak ikut turut andil dalam bencana ini. Apple menyumbangkan $1 million untuk korban, belum lagi dari berbagai elemen masyarakat. Semua turut mengambil andilnya masing masing dalam ikut berpartisibasi membantu korban.

Banyak cerita sedih nan pilu yang dialami oleh korban, didengar oleh relawan maupun dokter yang tanpa lelah bekerja demi sesama. Ada cerita yang keluarganya masih tidak ditemukan, ada yang tertelan tanah dan sebagainya.

Semua kejadian ini sangat sarat hikmahnya. Jauhi Syirik, dekatkan diri pada Allah semata. Minta kepadanya, bukan kepada makhluknya.

Ada rasa marah, karena saya hanya bisa membantu dengan uang yang tidak seberapa, ada rasa ingin membantu langsung, tapi apa daya, badan masih didera penyakit GERD, semoga cepat pulih diri ini dan Indonesia ku.

A Nice Idea 1

Sedang cari referensi terkait big data, browsing dan menemukan bacaan bagus dan singkat terkait penggunaan big data, sila baca dan download di https://www.bernardmarr.com/img/Beyond%20the%20Big%20Data%20Buzz.pdf

Terpirkirkan untuk membuat ide startup untuk jemput ibu hamil. Berangkat dari kenyataan bahwa istri sedang hamil kedua :D.
Rumah sakit ibu dan anak, atau dokter kandungan bisa melakukan kerjasama sinkron data pasien dan alamat tetap dalam satu applikasi. Ketika anak dari ibu masuk dalam waktu untuk siap melahirkan, maka sang ibu tidak perlu repot mencari kendaraan atau bingung mencari bantuan, aplikasi akan membunyikan kode notifikasi ke layanan rumahsakit dimana sang ibu tersebut periksa.

Ini ide untuk mengurangi kecemasan saat waktu melahirkan telah dekat.

Sholat Gaya Senam

Ternyata, bocah kecil yang bisa menghafalkan alquran 30 juz itu awesome.
 
Isya lalu, saat imam membaca Al Buruj, ada satu bocah yang mengikutinya dengan suara lantang, keras. Ah saya pikir hanya awalan surat saja.
Tapi tidak, dia ikut bacaan imam, bahkan sering mendahului, tetap dengan keras, sampai akhir ayat.
 
Keren kamu cah, seumuran kamu dulu, saya kenal juz amma saja belum!
 
Besok besok, kurangi gaya senamnya ya saat ruku’ !
 
فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيْدُ
“Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki.”
Al Buruj:16