Jetorbit Web Hosting

Unnamed

~samudra~

Dalam mimpinya, ia berselimutkan salju ditengah hutan, namun yang terasa dingin hanyalah lengan dan kaki kanannya. Hutan itu gelap pekat, tak terlihat kilau bintang yang wajar terlihat ketika langit gelap. Lengan dan kakinya sakit menusuk bagai terpukul benda tumpul berkali-kali.

Bau amis yang makin terasa melesak masuk makin  membuat ia percaya bahwa ini bukan hutan sesungguhnya. Ia mencoba menggerakkan kaki, basah. kaki kirinya mencoba menendang membuang salju, namun salju yang menumpuk itu tidak terbang melainkan berkecipak layaknya air.

Denging-an ditelinganya makin terasa jelas, sakit kepalanya makin menusuk. Alam bawah sadarnya mulai membangunkannya dari mimpi di tengah hutan bersalju.

..

Jetorbit Web Hosting

Novel. Bagian 1. Awal

Awal.

Sebuah ruangan di pojok gedung ini tetap menyala, terdengar ada aktivitas di dinginnya pagi. Disudut selasar, terlihat jam mengarahkan jarumnya pada pukul 03.40. Nyala lampu ruangan itu sangat mencolok, berbeda dengan ruang sebelahnya yang temaram dan gelap. Terdengar suara hentakan tuts keyboard yang sangat cepat dan sesekali terdengar deheman seorang pria. Ruangan ini layakya sebuah indekos, tidak besar, fungsional untuk satu orang.

Tampak ia mengelap tanggannya ke permukaan meja kayu itu, basah karena memiliki faktor kemungkinan palmar hyperhidrosis. Laptop dipangkuannya pun kerap bergoyang terkena tenaga ketukan keyboard yang mungkin membuat umur keyboard itu tak lama. Duduk dikursi lipat berbahan besi yang berwarna hijau tua itu membuatnya sedikit membungkuk. Besar badannya dan berperawakan layaknya tentara itu membuat kesan minimalis. Dikirinya berdiri secangkir gelas kopi yang terlihat ceceran ampasnya.

Kamar ini memiliki jam digital yang ada diatas dinding dengan lampu merah menyala layakanya masjid. Norak, itu kata temannya. Untuk disiplin, itu kata sanggahan Dhika. Naasnya kali ini kata disiplin sedang tidak akur dengannya.