Hutang A La Carte

Bismillah
mumpung hujan, dan belum banyak tiket support, coba berbagi mengenai hutang.
 
Hutang pada dasarnya boleh (Al Baqarah 282), namun jika terlalu sering, ditakuti akan mengubah mindset si penghutang, yang menjadi seakan akan hutang itu mudah dan tidak/malas untuk melunasinya.
 
Dalam ilmu manajemen barat, hutang ini jadi salah satu elemen faktor rating kepercayaan investor akan kelangsungan bisnis suatu perusahaan. Menurutnya semakin besar hutang, semakin bagus.
Karena hutang ini sifatnya mengikat, maka investor tidak akan takut uangnya dibawa lari atau perusahaan tutup bisnis.
 
Itu ilmu barat.
 
Lalu jika tidak ada utang, atau utang jangka pendeknya sudah lunas, bagaimana ratingnya? tingkat kepercayaannya? Ini yang diragukan, menurut ilmu barat.
Ditakutkan perusahaan kabur, perusahaan tutup dan lain hal. Padahal keuangan sehat.
Ini yang sulit bisa ditemukan antara si pengusaha dengan keuangan sehat/tanpa utang dengan investor model barat. Karena investor mindset barat melihat debt level nya.
 
Itu hutang perusahaan.

Upcoming

Belum lepas lelah ini menempel, matahari telah kembali ke peraduannya, semburat cahayanya menyeruak masuk melalui untaian sisa air hujan semalam di dedaunan yang tumbuh mempesona tanpa rintangan di depan rumah.

Hari itu, hari rabu. Walau subuh tetap wajib ke masjid, namun ba’da subuh tetap tidak bisa terjaga. Sunnah nabi pun terlewat oleh kantuknya mata.

Terlihat lelap tertidur dalam buaian angin pagi yang sejuk, bocah balita itu memposisikan badannya miring kiri dengan kaki yang hampir lurus berbaring, layaknya bagan huruf X besar yang disangga oleh guling dan bantalan. Nyenyak, lelap.

Walau terasa berat, memang sudah sewajarnya kaum pria menangani hampir seluruh keputusan. Baik dalam rumah, urusan keluarga maupun diluar, urusan kantor maupun kerjaan.

Memang betul, tak jauh dari keluarga adalah hal yang nikmat, namun dalam kenikmatan, ada ujiannya tersendiri. Manusia tak luput dari ujian.

Percayalah, menjadi pekerja yang bekerja dirumah dengan mengurus bocah, sungguh sangat tidak mudah. Stock kesabaran harus ada setiap saat, ready stock, JIT jika perlu!

Lokasi Telaga Biru Semin Jogja

telaga biru semin jogja

Telaga biru semin adalah tempat rekreasi di jogja yang bisa kamu kunjungi bersama keluarga. Pada mulanya telaga biru semin ini adalah tempat bekas pertambangan yang pada akhirnya terkikis oleh air hujan dan menjadi berbentuk danau. Akibat dari air hujan ini pun membuatnya menjadi empat kolam yang masing masing dalamnya mencapai 5 hingga 8 meter. Warna biru yang mewarnai danau ini diperkirakan karena akibat dari campuran bekas tambang, lumut dan berbagai macam campuran tumbuhan, yang membuatnya seperti warna danau kelimutu.

telaga biru semin
telaga biru semin

Jika ingin berenang disini bisa langsung menghubungi penjaga setempat dan akan diberikan pelampung sebagai pengaman.

telaga biru semin
telaga biru semin

Lokasi telaga biru semin ini bisa ditempuh jika anda dari jogja, maka bisa langsung menuju arah solo (melewati jalan solo), lalu pada saat di dekat area Prambanan & Klaten, berbelok ke bagian arah Cawas. Disana ada pertigaan lalu belok kiri mengambil arah Sukoharjo. Nanti anda akan menemui tugu batas antara Sukoharjo dan Gunungkidul lalu ikut jalan cor blok. Menempuh 2 Kilometer dan anda akan sampai di lokasi telaga biru semin ini.

Berikut ini adalah gps google map ke lokasi telaga biru semin

 

Tiket masuk untuk ke lokasi telaga biru semin ini relatif murah. Untuk pengendara motor hanya dikenakan Rp 2000 saja per motornya. Sebagai tambahan catatan, lokasi telaga biru semin ini berada di dusun Ngemplak, desa candirejo kecamatan semin.

 

Basahnya Kota “Raja”

Seminggu penuh dilewati sudah tanpa adanya absen air langit menyentuh tanah kota “raja” ini disetiap malamnya. Entah itu hanya menyapa dengan hujan ringan pun juga dengan derasnya bongkahan air langit ini hingga pagi menjelang.

Hujan adalah anugrah. Anugrah dari ilahi yang sepantasnya kita bersyukur karenanya. Namun banyak beberapa lokasi dewasa ini yang tidak sanggup menahannya, entah karena akibat dari ulah tangan manusia masa lampau atau memang sudah saatnya.

Terkadang, hujan menimbulkan rindu. Rindu akan suasana. Suasana yang akan membawa kita pada masa sebuah singkong hangat yang ditawarkan oleh ibunda teman sangat nikmat disantap. Suasanya dimana setiap insan pasti memiliki momen yang diingat dikala hujan mendera. Saat-saat dimana pedagang ote-ote dikerumuni oleh bocah-bocah yang istirahat dari bermain bola di derasnya hujan.

tawa-hujan

Lain pulau, beda cerita. Hujan orang rumahan bersuara kan seperti intonasi “ZZZ”. Beda halnya dengan suara hujan yang jatuh di tanah lapang yang hanya berisikan pohon jati, pohon minyak kayu putih dan luasnya lapangan sepak bola. Yap, Zaytun. Yang kamu dapatkan saat hujan adalah intonasi rendah dari suara “ZZZ” tanpa adanya tambahan amplifier. Lapang, syahdu dan rindu.

Redanya hujan meninggalkan bekas. Oh itu pasti kawan, hingga langit rumah yang belum genap 1 tahun ditempati pun sudah mulai melihatkan flek hitamnya. Hewan rumahan pun mencari tempat berteduh, bergemul dengan bulu yang ada untuk menahan dinginnya hujan.

Yang kuingat dulu di kota dengan masih menjalankan sistem kekerajaan ini saat bermandikan hujan adalah ketika berlari dengan belalang tempur menuju utara kaliurang. Sepanjang jalan, rintik pun tak kuasa menahan dorongan bongkahan rintik besar untuk turun menyerbu sepasang pemuda pemudi yang sedari tadi tolehan kepalanya, kiri kanan mencari warung jas hujan. Ntah apa yang ada di pikiran pemudi, sang pria bergegas memutar otak untuk satu tujuan, makan. Perut kosong dalam kedingingan akan menimbulkan halusinasi yang berlebih dan mual serta berbagai macam penyakit derivatif lainnya yang bisa mengakibatkan lumpuhnya ekonomi dunia permahasiswaan.

Negri Lorosa’e

Setiap permulaan terkadang butuh usaha dan kemauan yang keras nan gigih. Begitu juga yang terjadi pada sosok bapak. Demi mempertahankan idealisme akan kehidupan anak dan istri, dia pun rela memboyong keluarga ke yang sekarang menjadi negri seberang, Timor Leste. Dulu dikenal Timor-Timur dengan ibukota yang masih Dili.

Sejujurnya, kawan, tak begitu banyak yang bisa kuraih ingatan mengenai ini. Namun terkadang saat tiba waktu lebaran dan keluarga berkumpul, Ibu pun bisa saja mulai menceritakan masa lalu.

Balik ke tahun 1994, tepatnya Februari, dimana tahun dan bulan ini keluar saudara kandung. Tempat ini memang terkadang tepat jika dibilang sebagai surga yang belum jadi. Hembusan angin hangat menerpa dengan selaras pandang pantai noda-noda biru yang terus kupandangi sewaktu kita, ibu bapak dan adik baru menyisir pantai. Debu jalan pasir yang masih belum tersentuh aspal. Terlihat coklat kuning, seakan meminta air.

Rujak, ya potongan buah dengan olahan kuah kacang nan manis ini menjadi penolong kita untuk mengisi waktu selagi berteduh. Sesekali angin panas menerbangkan pasir-pasir halus yang mengubahnya jadi miniatur angin topan. Indah, tenang dan elok. Dihiasi pepohonan sejenis cemara kering dan rumput ilalang setinggi hampir satu meter yang telah kuning meranggas.

Piknik keluarga seperti ini acap kali terjadi di akhir pekan saat sang bapak berada di rumah tidak di situs proyek. Oh ya, banyak cerita menarik tentang kejadian proyek ini yang diceritakan sang bapak. Nanti, sabar, pasti diceritakan.

timor-leste

Lebaran adalah momen besar bagi kami, mungkin juga kalian. Lebaran tahun 2012, dihabiskan oleh bapak untuk bercerita mengenai masanya dulu saat di Timor Leste. Kembali ke masa itu, masa yang dibilang masa hectic bagi keluarga kecil keturunan Jawa yang tinggal di ujung timur Indonesia. “Kamu ga perlu ngerasain kerasnya jadi lulusan S1 sarjasana teknik sipil lagi, yang berat-berat kebanyakan sudah di selesaikan di jaman  bapak. Buka lahan, adu argumen dengan pemilik lahan, nge-bom bukit, itu semua sudah lewat. Dulu, waktu pulang dari site, kiri kanan terbentang bukitan batu karas yang jika siang itu putih, tapi malam itu berdiri para pembela kebebasan tanah timor leste. Menenteng senjata yang jika dilihat sekilas mirip AK-47, dengan hanya mata yang terlihat, semua kepala tertutup seperti ninja. Selama perjalanan pulang, hanya ingin bisa lihat matahari pagi saja.”

Hening Hujan

Malam memang akan semakin larut, namun pikiran tak kan. Tuan otak akan terus meletupkan irama dan gelombang gelombang, menari nari di lingkar luar kepala, bertanya-tanya, apa yang akan terjadi esok.

Ah, belum kubilang, malam ini, rintik hujan membasuh bumi. Sepertinya diatas sana seraya ikut menyambut bulan akhiran “..ber” ini. Ntah, apa yang terjadi di luar sana. Apakah panas bumi mulai “adem”, ataukah ini justru gejalanya? Andai ku tau.

 

Ntah apa pasal, setiap kali air jatuh ke bumi pertiwi, kali itu juga muncul siluet sensasi, aroma dan kenangan yang seakan terus berputar bak roll film jadul. Silih berganti disetiap hembusan nafas. Seakan ingin menerjang memori itu dan kembali ke masanya.

Dingin malam semakin menjadi. Mengingatkan pada masa silam. Tidak terlalu silam, hanya muncul 5-10 tahun. Ya kamu, mau dengar cerita mana dulu? Ah mungkin ada baiknya cerita tentang ibu kota? tentang ibu tiri yang menyamar menjadi ibu kota? baiklah. Duduk dan hening.

Negri Lorosa’e