Bukan Robot

Hingar bingar acara kelulusan wisuda program sarjana 1 telah usai. Kala itu 2012 akhir. Setiap manusia yang ada di acara itu memiliki agenda sendiri. Sekarang atau mendatang. Yakin, sedikit yang merancangkan kegiatan masa mendatang hingga 3 sampai 5 tahun. Dan akhirnya pun, semua mengikuti waktu. Atau sebaliknya.

Waktu berlalu, catatan amal pun terus bergulir, sisi kiri maupun kanan. Masing-masing manusia hidup di atas tanah ini memiliki cara sendiri untuk menentukan masa depannya. Apa yang ingin dicapai, dan bagaimana cara mencapainya. Mungkin kamu bisa menebak, apa tujuan tulisan ini. Bukan, visi dan misi sudah dituliskan di sini. Lanjut.

Hapir semua makhluk yang ada di acara kelulusan tersebut “mengekor” perusahaan. Ya, kami sarjana, yang dulu oleh pemerintah terus ditingkatkan hasil sarjana ini karena mengejar lowongan perusahaan. Namun sekarang, kondisi terbalik. Sikut sana sini terjadi walau kasat mata, hanya untuk menduduki posisi “aman” dalam gedung kotak berisi para kaum urban berkemeja.

Did i say “aman?” Well yes. Kecenderungan pada rasa aman dalam bekerja ini memotivasi hampir seluruh pekerja di negri yang dulunya lumbung padi ini. Aman adalah mendapatkan gaji perbulannya. Aman mendapatkan perintah yang walau salah bisa bersembunyi dibalik kedok nama perusahaan. Aman terhadap status sosial yang akan dipertanyakan. Aman adalah menikmati reimburse yang ditawarkan perusahaan. Apakah kita pernah berpikir dibalik itu semua ada sistem yang berjalan? Ada “sumber” yang ikut tergerus?

Tiga tahun berlalu dan layakanya banyak orang bilang. Kutu loncat. Lompatan dahsyat dengan sekali sentakan mendarat di “punggung” perusahaan lain. Mulai dari sini adalah murni tulisan yang ditujukan kepada penulis.

Diri ini tidak pernah merasa puas, “sreg” dengan titah yang ditelurkan oleh orang yang tingkatannya lebih tinggi. Selalu ada tanda tanya besar dibalik semua perintah yang ada. Pernah ada tes kepribadian dan hasil yang muncul ada INTJ. Salah satunya mengatakan bahwa tipe ini adalah self-driving.

Sentakan pertama mendarat bukan di punggung. Melainkan pergi umroh. Ntah apa yang mendasari dari doa yang diucapkan, yang dilantunkan dan yang terus terngingang selama berada di tanah suci itu. Hingga akhirnya bisa memiliki lebih dari 500 klien. I wanna be the best, also.

Siapa yang terus berjalan? waktu. Ia terus menggerus dan menjadi saksi dari semua aksi di muka bumi. Tak terkecuali lulusan nyaris IP 3 ini. Berdiri mematung berhadapan dengan dirisendiri. Cermin.

Betul  tulisan di meme yang berlatar harimau mengaum, bahwa musuh dalam selimut yang siap menghantui dan menerkam adalah diri kita sendiri. Dalam penanggungan perusahaan, kita terus merasa aman akan apa yang ingin diharapkan, akan apa yang kita persiapkan dimasa depan. Namun ketika hentakan “kutu loncat” dan mendarat dengan teguh di kaki sendiri dengan name Entrepreneur, siapa yang lagi merasakan aman itu? Setiap tindakan, ucapan dan rencana adalah hasil dimasa depan yang akan diperhitungkan di alam baka nanti dan diperlihatkan di alam ini.

Lalu, tak sempat berpikir panjang adalah cara ceroboh yang akan meremukkan dalam sekejab rencana yang dipautkan. Melatih untuk berpikiri panjang mulai dari hal yang sederhana adalah cara terbaik untuk memulai.  Latih untuk berpikir 1,2,3 hingga 5 tahun kedepan. Tulis dan simpan baik baik dalam memori dan panjatkan doa untuk pengabulannya. Namun tanpa aksi hal ini jadi percuma.

Aksi adalah hal yang bisa mengubah hingga mengguncang dunia. Malas tidak. Ini musuh besar bagi yang berjalan sendiri atau istilah kerennya bootstrapping, atau memulai usaha sendiri. Beda, beda dengan ketika kaliam masih diperusahaan. Mau tidak mau pasti kerja, right?

 

1 thought on “Bukan Robot”

Leave a comment