Ga Mudah, Sob!

Dulu saya termasuk orang yang latah menjadi Enterpreneur.

Latah dalam artian, ikut-ikut aja cerita orang yang katanya sukses jadi enterpreneur. Ikut-ikutan punya keinginan gak mau kerja diatur-atur orang. Latah ikut-ikutan gak mau jadi karyawan kantoran supaya bisa kerja ‘semau gue’.

Kala itu momentumnya pas banget. Saya itu dulu kerja di salah satu perusahaan MNC asal Jerman. Berangkat pagi, pulang maghrib, sampe rumah jam 19.00-20.00 an. Berangkat kerja, anak masih tidur, pulang kerja anak sudah tidur. Hari sabtu libur, tapi wes cuapek puol, bawannya mau tidur.

Di kantor pun kok disuruh-suruh mulu ama bos. Wes dilakuin, abis itu dimarahin pulak karena yang tak kerjain gak sesuai keinginan bos.

“Ada gak sih pekerjaan yang gak begini?”, gitulah dulu saya mikirnya.

Pas banget momennya kan tuh, pas lagi galau-galaunya, pas juga lewat bisikan-bisikan motivator bisnis tak bertanggung jawab. Disuruh jadi pengusaha aja, gak usah jadi karyawan. Gak usah bingung modalnya gimana, ngutang aja. Gitu katanya. Kuliah tinggi-tinggi kok jadi karyawan, buka lapangan pekerjaan dong. Gitu katanya.

Latahlah saya…. Latah jadi enterpreneur.

Semangat 45.Setelah kontrak saya selesai, saya menolak semua tawaran jadi ‘karyawan’ di beberapa perusahaan, termasuk perusahaan besar. Saya mantap mulai usaha kecil-kecilan. Modal ngutang. Latah aja mau jadi enterpreneur biar keren gitu, kerja gak diatur-atur, gak ada yang marahin.

Nyatanya, kalo saya boleh katakan, latah menjadi enterpreneur was one of the most STUPID decisions I have ever made!

Saya ‘mengharamkan’ pekerjaan menjadi karyawan. Menutup 1 pintu dah gitu digembok, terus kuncinya dibuang ke tengah laut biar dimakan ikan paus. Lalu mencoba peruntungan membuka pintu lain yang masih terkunci. Entah kuncinya dimana.

Yes, bodoh!

Ternyata menjadi pengusaha gak seindah yang sering diceritakan para motivator bisnis, gak seindah yang ada dibayangan saya.

Yang dulu saya rasakan, kalo mau usahanya berjalan sukses, kerja GAK BISA ‘semau gue’. Bisa dibilang, effort yang dikeluarkan justru lebih besar (ketimbang jadi karyawan dulu). Dengan resiko yang jauh lebih tinggi. Resiko gak dapet duit maksudnya.

Jadi pengusaha gak diatur-atur orang? gak bener juga.

Faktanya, menjadi pengusaha pun membutuhkan strategic partnership dari orang lain. Butuh dukungan orang/pihak lain. Supplier misalnya, atau yang lebih jelas lagi adalah konsumen. Kalo usaha masih kecil, bisa-bisa kita diatur-atur supplier atau bahkan konsumen. Kalo gak ‘nurut’, ya gak jualan.

Pagi dan malam seorang enterpreneur itu dipusingkan oleh banyak hal. Itu pikiran bisa sangat membuat stress. Bahkan bisa membuat seseorang putus harapan. Ya, putus harapan hidup.

Jadi, jangan latah lah jadi enterpreneur.

Saya gak bilang jadi enterpreneur itu salah lho. Poin yang saya addressed disini adalah LATAH menjadi enterpreneur. Jadi, yg salah itu orang yang latah tanpa pikir panjang memutuskan jadi enterpreneur, mudah terbawa arus.

Nasihat saya sebagai orang gagal kepada kalian yang semangatnya masih 45. Jangan menutup pintu rapat-rapat. Kalo bisa justru buka pintu yang banyak.

Maksudnya gini, jika menjadi karyawan di sebuah perusahaan adalah 1 pintu, maka jangan tutup pintu itu rapat-rapat (resign). Biarkan 1 pintu itu terbuka, lalu kamu buka pintu-pintu lainnya yang bisa saja dari jalan bisnis atau jalan lainnya. Kalo pintu-pintu lainnya sudah banyak yang terbuka, bolehlah kamu tutup pintu pertama tadi, supaya lebih fokus.

Btw, jika postingan ini bermanfaat, silahkan boleh dibagikan kepada yang lain agar tidak banyak korban-korban latah jadi enterpreneur 😊.

Follow juga instagram saya untuk konten bermuatan Edukasi, Inspirasi dan Motivasi lainnya: https://instagram.com/mustikologi

2 thoughts on “Ga Mudah, Sob!”

  1. Sepakat mas, saat saya mahasiswa dulu selain tren motivasi entrepreneur ada jg tren motivasi nikah dini. Saya sepakat kuncinya ada di “jangan latah”, mesti dari pertimbangan matang.

    Sampai saat ini saya selalu terpikir menjalani bisnis yang lebih cocok dengan passion (offline: mengajar, online: punya blog atau webhosting sendiri) ketimbang pekerjaan yg sedang saya jalani sekarang. Tapi kalo dipikir2 lagi, dengan menjalani kerja melelahkan yg sedang dijalani ini, memungkinkan saya buat lebih bisa dapat modal bisnis, misalnya bayar webhosting, beli domain, dll. Ada mimpi suatu saat bisa fokus menjalani apa yang jadi passion saya.

    Saya rasa masukan2 tentang “jangan latah” itu perlu banget tersampaikan ke orang2. Selain mendorong orang biar semangat go entrepreneur juga mesti mendorong semangat menyiapkan bekal dan mental mereka. Dengan begitu tak akan menjadi motivator tak bertanggung jawab, melainkan motivator sungguhan.

    Reply
    • Hai mas.
      Menurut saya “latah” itu ga semuanya buruk.
      Bayi kecil juga mencontoh orang yang lebih besar atau yg ada disekitarnya.
      “latah” baik ketika di ikuti dengan pertimbangan tertentu.
      Seperti yg mas bilang, kadang pekerjaan ga sejalan dengan passion, but you need it. And thats okay.
      ketika sudah cukup untuk memenuhi passion, baru bisa loncat ke ranah tersebut.
      Cheers!

      Reply

Leave a comment