Jengah

Pria itu kerap meratapi kesalahan masa lampaunya.
Menangis dalam diam, sesekali memegang mulutnya.
Tak tertahan, getaran bahu itu, menggetarkan badannya. Pilu.

Setiap kita memiliki masanya sendiri. Waktu nya sendiri.
Namun, setiap langkah yang diambil saat ini, akan berdampak pada masa depan.
Pria ini tidak tau akan terjadi layoff. Besar-besaran.
Kerabat kerjanya pun pulang kampung satu persatu.
Protes tak dapat di elakkan, tapi apa daya, hanya sebatas “bawahan”. Tidak lebih.

Terpikir olehnya, dua putri yang berdekatan umurnya itu, merajuk meminta jatah es krim,
Yang mungkin akan sulit mereka dapatkan lagi.
Sekelabat terbayang istrinya, yang kerap mengeluh baju adek sudah kecil, uang makan mulai menipis.

Apa yang mau ia katakan pada mereka nanti dirumah yang sederhana itu? Bohong? bukan jati dirinya. Mengeluh? bukan genetiknya!

Namun pada akhirnya, ia harus mengatakan pill pahit itu ke istrinya. Serasa ditimpa batu, istrinya pun terkejut akan hal ini. Segera diraih HP nya dan membuka Facebook. Berselancar ke grup dengan kategori usaha. Tuk mulai menjual apa yang bisa dijual.

Lowongan kerja pun sudah mulai di hantarkan. Datang ke toko-toko dan kantor, belum juga ia dapatkan anggukan kepala untuk bekerja. Sulit. Masa ini semua berhemat.

Ia mulai habis pikiran dan semangat. Istrinya pun sampai mencarikan pekerjaan melalui social media itu.

Tapi hei, dapatkan segenggam uang bukan hanya bekerja pada orang lain, punya motor sudah bisa ngojek atau jasa antar lainnya.

Leave a Reply