Samawa

Bismillahirrahmanirrahim.

ditulis dari dalam kamar yang disediakan mertua untuk tamu nan jauh dengan single window terbuka menghadap pegunungan jalur Bima-Sumbawa. Ciamik.

Nama

Mungkin bagi sebagian orang tua, nama anak bisa diberikan dari apa saja yang “terlihat” baik dan yang terdengar layaknya lantunan arab. Saat wisuda 2017 lalu, ada wisudawati dengan nama “mawaddah wa rahmah” serentak seisi ruangan Grha Sabha Permana tertawa, lucu. Lucu karena nama ini biasa digunakan untuk memberikan ucapan selamat kepada pengantin. Namun sebenarnya maknanya bagus.

Lain pulau, lain cerita. Dikampung ini, Karang Cemes, Sumbawa Besar (baca sedikit penjelasan dibawah, kenapa kampung ini diberikan nama) ada anak, perempuan, memiliki nama panggilan Sabda. Awalnya saya pikir biasa. Ternyata ada lanjutan namanya, yaitu Sabda Rasulullah…. ibu mertua pun tidak hafal kelanjutannya. Rasulullah Shalallahualahiwassalam.

Kampung Karang Cemes ini, sama seperti kampung pada umumnya. Penamaannya berdasarkan watak, kegiatan atau nilai sejarah yang terkandung dalam kampung. Karena kampung ini dulunya adalah tempat para kusir atau pemilik kuda bertempat tinggal dan cemes adalah istilah seperti nyemes atau menghentakkan tali kekang atau memukul atau menyabet kuda dengan pecut dengan sekali hentak yang membuat kuda meringis kesakita agar berjalan.

Nama saya sendiripun panjang, 6 harokat kata. Dengar dengar sih, karena anak pertama, dan jadi rebutan untuk sumbangan nama. Jika tidak dipangkas jadi 6, bisa jadi 12 kata. Kenapa ga buat novel sekalian?

.

Jalan

Sebetulnya, masih banyak potensi dari pulau ini, daerah ini, Sumbawa. Memang betul disini kering, sekan akan matahari sangat dekat jika pada siang hari. Apalagi bertepatan dengan musim kemarau (Agustus 2017). Panas disiang hari, dingin menusuk dipagi hari.

Ambillah contoh, jalur jalan menuju Bima. Darisana saja kita bisa melihat kota Sumbawa dari kejauhan. Ciamik. Ini hanya baru sedikit nikmat yang bisa kita nikmati. Belum lagi pantainya, jangan ditanya, banyak sekali pantai bagus yang berada dipesisir jalan menuju Poto Tano (pelabuhan Sumbawa – Lombok) yang sangat jernih airnya. Saya bisa jamin, kamu yang jarang lihat pemandangan seperti ini, pasti ingin berkali kali mengunjunginya, berkali kali. Saya juga.

Pembangunan pun dari sepenglihatan saya, observasi mandiri, masih dibilang lambat. Namun sudah terlihat bukti kerja untuk merapihkan tatanan kota, pinggiran pantai Goa yang masih berserakan namun sudah mulai terlihat adanya pembangunan disana, dan pantai pantai dalam kota lainnya.

Apa yang menjadi hambatan pribadi adalah, karena saya menginap dirumah mertua kali ini, transportasi. Sehingga harus bergantian untuk menggunakan motor. Alhasil, sunrise pagi pun sepertinya masih susah diburu. Namun tidak mengapa, takkan lari matahari dan gunung dikerjar. Masih bisa dibasahkan “dahaga” sunrise ini di Gn Andong nanti.

Oh ya, hampir lupa. Perjalanan ke Sumbawa ini dengan “menumpaki” pesawat Wings. Cukup murah, sekitar 250rb-an tergantung waktu (Lombok-Sumbawa). Kita berangkat dari Jakarta – Lombok (transit) – Sumbawa. Total 2 orang dewasa dan 1 infant sekitar Rp 1,8jt-an. Tentu kita pulangnya ke Jogja, dan sampai sekarang saya bingung, kenapa dari balik ke Jakarta lebih murah ke timbang Jogja? WHY?

Penerbangan Lombok Sumbawa dengan Wings ukuran seat 2-2 ini berjalan mulus. Diwarnai dengan beberapa turbulensi ringan yang memang cuacanya pun sedang banyak angin. Serius, setiap kali ke Sumbawa pasti anginnya begini. Alhamdulillah.

Sumbawa ini bukanlah padang hijau nan basah layaknya di pulau Jawa. Namun tipenya kering, dan panas. Layaknya bagian timur lainnya. Pengalaman 6 tahun di NTT membuat terngiang kembali keadaan disana. Inilah sisi perbedaannya. Jalanan berkelok dan beraspal khas perjalanan antar kota yang membelah bukit disertai pemandangan laut nan beautiful! Saya rekomendasikan kamu untuk mengunjungi Sumbawa dengan travel pada pagi atau siang hari. Jangan sampai malam ya, biar tidak ketinggalan pemandangannya.

.

Makan

Hal ini tidak pernah terlewatkan jika “mengungsi” sementara disuatu daerah. Makanan di Sumbawa, hampir tidak jauh beda dari makanan di Lombok. Perpaduan pedas, kecut jeruk nipis dan segarnya tomat bikin perut lupa kenyang, InsyaAllah ga ya. Sebut saja makanan seperti pelecing, urap, ayam taliwang, dan yang mantab adalah ikan laut bakar! Fresh from the sea bro! Ada makanan yang baru saya coba sewaktu dirumah ibundo istri saya, sebenarnya ini masuk ke jajanan. Makanan ini adalah susu kerbau yang dicampur atau dituangkan dengan poteng atau tape ketan putih. Rasanya enak dan gurih, lebih enak diberikan es batu, jadi lebih segar.

Ikan laut disini bervariasi harganya. Mulai 30rb – 80rb per kilo. Lho ko beda jauh? Iya, 30rb jika yang jual tetangga dan 80rb bisa didapat dipinggir pantai. Beda jauh. Bapakndo istri saya ini seorang pelaut, betul, bisa dipilang memancing/menangkap ikan adalah hobi dan pekerjaannya. 2-3 hari melaut disekitaran pulau moyo untuk mendapatkan ikan besar. Tergantung angin kemana akan mengarahkan penangkapan ikan. Jika angin ke timur, maka ke sekitaran pulau Moyo, jika ke barat, maka akan dipesisir pantai dekat Sumbawa.

Sekali melaut, beliau cerita, modal umpan saja bisa Rp 150rb. Ikan yang didapat pun bisa bervariasi, terkadang besar dan kecil, namun seringnya besar. Nikmat tak terkira. Beliau jual ke tetangga hanya dengan 30rb saja per kilo. “Buat tetangga kita jual murah saja, ambil untung sedikit, yang penting balik modal” Begitu katanya. Banyak ikhtisar yang bisa saya ambil. Nanti saya ceritakan dibawah. Lanjut.

Ada jenis makanan sayurnya yang rasanya gurih, kecut dan segar jeruk nipis dan pedas. Sayur ini bernama Sepat. Iya, sayur sepat ini berisi terong bakar, daun (lupa namanya) bentuknya kecil-kecil, cabai yang digeprek sesuai selera. Nah cara makannya adalah dengan menaruh ikan laut bakar yang dicuil kedalam sayur ini, aduk sebentar sesuai selera, lahap dengan nasi panas! Nikmat mana yang kaudustakan? (Ar Rahman)

Ikhtisar

Pergi ke rumah ibundo istri untuk makan siang seperti jadwal rutin untuk 3 hari lalu. Suatu ketika, istri bertanya, “Ibu ga ambil BPJS?” apa dijawabnya? “Orang kita ga sakit!, kalo sakit paling batuk pilek saja. Berdoa pada gusti Allah saja” Ini sungguh luar biasa. Pemahaman seperti ini jarang ada diantara kita. Kita sering berpikir “jika nanti”, “jika nanti begini” “nanti kalau sakit bagaiman” Hei! Tugas kita beribadah, bukan menyetir kehidupan. Memang betul kita harus memiliki uang untuk hal semacam ini, namun tidak jauh melampaui takdirnya. InsyaAllah sehat.

 

Leave a Comment