SCALE UP VS BONSAI By Mardigu Wowiek

Scaling-up atau membesarkan bisnis setelah sebuah perusahaan baru atau UKM mencapai “product-market fit” adalah tantangan terbesar pengusaha.

Terdapat data di amerika bahwa 75% perusahaan baru berdiri gagal karena tak mampu membesarkan diri (premature scaling) alias layu sebelum berkembang. Dan di asia lebih tinggi lagi yaitu 80% perusahaan muda gagal kembang.

Ini masalah mindset kah? Bisa jadi, karena apa yang kita katakan adalah doa. Misalnya di Indonesia kita nyeleneh minggir dulu ke sesuatu yang mungkin tidak ada hubungannya tetapi relevan untuk bahan pembanding.

Ada sebuah partai yang memiliki “kata-kata” menarik. Partai ini partai besar di Indonesia. Namun tag line nya lucu, partai wong cilik. Dari kalimat tersebut partai ini seakan memang tidak menginginkan para konstituennya menjadi “orang besar” kali ya? . Karena kalau jadi orang besar, partainya moksa, bisa hilang jangan-jangan 

Jadi cita-citanya akan membuat pemilihnya selalu kecil, cilik terus. Herannya kok bisa 18% memilih mereka ya? Kenapa sih ngak mau jadi partai scale up?

Dalam bisnis sekarang, Sahabat saya pimpinan TDA tangan di atas , mas Bara, dengan kekuatan 100.000 orang berusaha keras membawa scaling up komunitasnya, cita-cita mulia sekali. Ini khan berlawanan kalau melihat tag line partai dengan TDA hehehe. Untung yang satu adalah pembangun ekonomi si TDA sementara si partai yang ingin konstituennya cilik terus bukan pembangun ekonomi, hanya pembangun kekuasaan.

Balik lagi ke awal tulisan tentang mengembangkan diri, sebagian besar UKM adalah “perusahan bonsai” karena sepanjang hidupnya kecil terus tidak pernah membesar karena tak tahu dan tak mampu melakukan scaling-up.

Ini tantangan terbesar pebisnis pemula, bagaimana berkembang dan tidak terbonsai, kecil terus.

Apa rahasia suskes sebuah scaling-up? Ada dua prasarat dasar di tinjau dari sisi internal dan eksternal perusahaan. Pertama secara internal, bisnis yang kita bangun harus memiliki skala ekonomi (projected economies of scale). Kedua secara eksternal, ia harus memiliki pasar yang cukup besar (large addressable market) untuk tumbuh.

Nah disini kita mulai masuk ke dalam bisnis secara rinci. Pemahaman berbisnis seseorang pemula harus meningkat dari sekedar jualan dan mengelola (manajemen) perusahaan menjadi membuat skala keekonomian.

Saya faham tulisan bisnis tidak popular di Indonesia. Peminatnya sedikit sekali. Namun saya percaya banyak sahabat yang ingin makmur, jadi saya terus banjiri dengan informasi beginian, boleh?

Economies of Scale adalah sebuah perhitungan bisnis yang bisa massif membesar atau bahasa lainya Skala ekonomi terjadi jika biaya per-satuan (unit cost) turun jika output perusahaan bertambah besar. Bisnis yang mengalami hal ini disebut bisnis tersebut: scalable.

Seperti misalnya bisnis computer dan dunia internet. Semakin banyak yang beli, semakin banyak yang pakai, biaya produksi semakin turun persatuan unitnya.

Misalnya flat screen TV di awal keluarnya harga TV 42 inci bisa Rp 20 juta, sekarang ukuran yang sama bisa hanya 4 juta perunitnya. Laptop, mobil, dan banyak lagi scalable bisnis semacam ini.

Disisi lain misalnya warteg, ongkos nya flat. Satu piring modal 5000 jual 15.000. ketika 1000 pring, tetap sama modal 5000 juga. Bahkan naik karena perlu ruangan ektras, malah bisa jadi 6000 modalnya.

Umumnya professional services seperti guru, pengacara, konsultan, atau pembicara/motivator tidak scalable atau sulit di-scaling-up.

Faktor kedua adalah market size atau addressable market. Bisnis Anda tak akan bisa besar jika market size dari industri yang Anda masuki kecil. Karena itu agar bisa scaling-up, Anda harus memastikan bahwa total potensi market size yang bisa diambil harus sangat besar.

Kita beri contoh ya? Karena contoh ini harus di pahami dari pengelola Negara sampai ibu rumah tangga. Kalau pengelola Negara ngak faham scaling up, bisa-bisa perkembangan ekonomi di arahkan ke sesuatu yang bonsai semua. Bahkan regulasi saat ini banyak yang membonsai pengusaha sehingga tidak bisa scaling up, dan masih ngak nyadar juga yang membuat bangsa Indonesia di jajah ekonominya oleh asing, eh malah pada sibuk bagaimana 2019 berkuasa. Lanjut? #MMBCIVJOGJA#peace

Sumber : https://www.facebook.com/mardigu.wowiek/posts/10210253391832708

Bukan Robot

Hingar bingar acara kelulusan wisuda program sarjana 1 telah usai. Kala itu 2012 akhir. Setiap manusia yang ada di acara itu memiliki agenda sendiri. Sekarang atau mendatang. Yakin, sedikit yang merancangkan kegiatan masa mendatang hingga 3 sampai 5 tahun. Dan akhirnya pun, semua mengikuti waktu. Atau sebaliknya.

Waktu berlalu, catatan amal pun terus bergulir, sisi kiri maupun kanan. Masing-masing manusia hidup di atas tanah ini memiliki cara sendiri untuk menentukan masa depannya. Apa yang ingin dicapai, dan bagaimana cara mencapainya. Mungkin kamu bisa menebak, apa tujuan tulisan ini. Bukan, visi dan misi sudah dituliskan di sini. Lanjut.

Hapir semua makhluk yang ada di acara kelulusan tersebut “mengekor” perusahaan. Ya, kami sarjana, yang dulu oleh pemerintah terus ditingkatkan hasil sarjana ini karena mengejar lowongan perusahaan. Namun sekarang, kondisi terbalik. Sikut sana sini terjadi walau kasat mata, hanya untuk menduduki posisi “aman” dalam gedung kotak berisi para kaum urban berkemeja.

Did i say “aman?” Well yes. Kecenderungan pada rasa aman dalam bekerja ini memotivasi hampir seluruh pekerja di negri yang dulunya lumbung padi ini. Aman adalah mendapatkan gaji perbulannya. Aman mendapatkan perintah yang walau salah bisa bersembunyi dibalik kedok nama perusahaan. Aman terhadap status sosial yang akan dipertanyakan. Aman adalah menikmati reimburse yang ditawarkan perusahaan. Apakah kita pernah berpikir dibalik itu semua ada sistem yang berjalan? Ada “sumber” yang ikut tergerus?

Tiga tahun berlalu dan layakanya banyak orang bilang. Kutu loncat. Lompatan dahsyat dengan sekali sentakan mendarat di “punggung” perusahaan lain. Mulai dari sini adalah murni tulisan yang ditujukan kepada penulis.

Diri ini tidak pernah merasa puas, “sreg” dengan titah yang ditelurkan oleh orang yang tingkatannya lebih tinggi. Selalu ada tanda tanya besar dibalik semua perintah yang ada. Pernah ada tes kepribadian dan hasil yang muncul ada INTJ. Salah satunya mengatakan bahwa tipe ini adalah self-driving.

Sentakan pertama mendarat bukan di punggung. Melainkan pergi umroh. Ntah apa yang mendasari dari doa yang diucapkan, yang dilantunkan dan yang terus terngingang selama berada di tanah suci itu. Hingga akhirnya bisa memiliki lebih dari 500 klien. I wanna be the best, also.

Siapa yang terus berjalan? waktu. Ia terus menggerus dan menjadi saksi dari semua aksi di muka bumi. Tak terkecuali lulusan nyaris IP 3 ini. Berdiri mematung berhadapan dengan dirisendiri. Cermin.

Betul  tulisan di meme yang berlatar harimau mengaum, bahwa musuh dalam selimut yang siap menghantui dan menerkam adalah diri kita sendiri. Dalam penanggungan perusahaan, kita terus merasa aman akan apa yang ingin diharapkan, akan apa yang kita persiapkan dimasa depan. Namun ketika hentakan “kutu loncat” dan mendarat dengan teguh di kaki sendiri dengan name Entrepreneur, siapa yang lagi merasakan aman itu? Setiap tindakan, ucapan dan rencana adalah hasil dimasa depan yang akan diperhitungkan di alam baka nanti dan diperlihatkan di alam ini.

Lalu, tak sempat berpikir panjang adalah cara ceroboh yang akan meremukkan dalam sekejab rencana yang dipautkan. Melatih untuk berpikiri panjang mulai dari hal yang sederhana adalah cara terbaik untuk memulai.  Latih untuk berpikir 1,2,3 hingga 5 tahun kedepan. Tulis dan simpan baik baik dalam memori dan panjatkan doa untuk pengabulannya. Namun tanpa aksi hal ini jadi percuma.

Aksi adalah hal yang bisa mengubah hingga mengguncang dunia. Malas tidak. Ini musuh besar bagi yang berjalan sendiri atau istilah kerennya bootstrapping, atau memulai usaha sendiri. Beda, beda dengan ketika kaliam masih diperusahaan. Mau tidak mau pasti kerja, right?