The Dot

Sekarang subuh mendekati jam 5. Alias jam 4.30-an. Ba’da subuh, langit sudah mulai merekah, menampakan kemilaunya.

Suatu waktu, tertegun sendiri, melihat langit masih muda dengan desiran angin menyentuh dedaunan lembut membuat burung berpindah. Angin disaat subuh itu lantas menerbangkan memori masa lampau.

Terngiang urutan memori. Kupang, palembang, denpasar, mataram, zaytun, jakarta. Semua tempat ada ingatan tentang pagi hari berangin.

Kata mendiang Steve Job, hidup ini bagai menghubungkan titik dengan melihat kebelakang. Connecting the dot. Entahlah apa yang membawaku tinggal dan menetap di Jogja ini. Bahkan ke tiga anakku lahir di rumah sakit yang sama. Dan rencananya juga anak ke 4.

Dulu, kami sering berpindah, bapak ditugaskan beda beda pulau. ya seperti diatas itu. jadi tempat lahir saya dan adik berbeda. Pemalang, Dili, Kupang, dan penutupan Pemalang juga.

Hidup nomaden itu yang berat perubahannya. walau dulu kami masih bocil. tidak terasa perpindahan itu. yang pasti terasa cukup berat ya bapak dan ibu. kini saya merasakan, “mengelola” bocil 3 kepala. ada turun ada naiknya. dinikmati saja kata ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *