Dorongan mu

Artikel ini saya ambil dari artikel sendiri di Medium.com

Mercedes Benz tidak akan ada jika Karl Benz tidak pernah memulai usahanya. Sama seperti para pengusaha lain, tidak ada kemajuan jika kurang dorongan dari diri sendiri.

Masalah terbesar bagi entrepreneur muda (baru mulai) adalah bagaimana menjadi contoh bagi usahanya. Membuat rencana bisnis memang tidak mudah, namun yang lebih sulit adalah menjalankan rencana tersebut, karena rencana itu dibuat sendiri, dan dilakoni sendiri.

Berbagai macam rintangan biasanya dijadikan alasan. Sudah nyaman dengan kondisi sekarang, masih malas, masih mendapatkan uang bulanan dari kantor, masih ini dan itu. Sepertinya buku “power of kepepet” itu memang cocok di terapkan dibanyak penduduk Indonesia.

Saya lupa filmnya, film filipina/thailand, mengenai guru yang mengajar di pelosok desa, yang antar rumahnya saja menggunakan perahu. Rumah ke sekolah menggunakan perahu. Salah satu adegan menceritakan bagaimana guru memaksa anak muridnya untuk sekolah, apa yang mereka bilang?

“Well, hidup dari memancing saja bisa, kenapa harus sekolah?”. Gurupun terdiam. Tenggelam.

Filipina/Thailand tidak beda jauh dengan Indonesia dari sisi geografis dan sumber daya alamnya. Pertanyaan ini bisa jadi ada di banyak pemikiran kepala keluarga yang masih tinggal di pedesaan sana. “Kenapa harus sekolah, kalo hidup begini saja (read: ternak, dagang yang usaha ini meneruskan dari orang tua) enak”. Pemikiran atau pandangan seperti ini yang sulit diubah ketika anak beranjak dewasa. Putus atau terpaksa berhenti sekolah dikarenakan “titah” orang tua maupun lingkungan. Turun temurun menggiati sesuatu yang bisa membuat perut kenyang tidaklah salah, tapi jika bisa membuat perut kenyang banyak orang dan menjadi lebih luas jangkauannya juga tidak salah, jalannya adalah dengan pendidikan.

Pendidikan akan membuka pandangan dari berbagai macam sudut, membuat pola pikir, menjadi dewasa dengan rencana-rencana. Hidup dengan penuh visi dan misi akan apa yang ingin dicapai.

Agar kembali ke topik bahasan utama, bahwa perlunya seseorang entrepreneur mengenyam pengalaman dan pendidikan agar usaha yang dimiliki sustain. Good isn’t enough. Ketika rasa nyaman datang, itulah tanda tantangan level selanjutnya.

Challenge your self harder. Tantang diri kita, tantang bisnis kita, tantang ke level yang lebih luas lebih baik, yang dimana bisa merekrut banyak orang, yang dimana bisa membantu banyak kepala keluarga mengisi perut tanggungannya, yang dimana kita bisa lebih banyak memberi.

Salam dari Netpreneur.

Full Layout atau Boxed?

Well, ini menjadi bahan pemikiran hari ini, sebetulnya apa sasaran dari Full layout dan boxed layout pada website? apa pengaruhnya pada User Experience (UE)? apakah user akan datang dan bingung dengan tampilan full layout karena matanya perlu membaca dari kiri ke kanan monitornya? atau dengan boxed layout user hanya membaca separo dari lebar layar komputer/laptop?

Ini perlu diperhatikan bagi website owner ketika merancang website. Siapa sasaran website itu? kenapa menggunakan desain full atau boxed? mari kita bahas.

Menurut pendapat saya tentang Full Layout. Full layout terkenal baru beberapa tahun belakangan ini, dikarenakan fungsi dari css3 dan html5 yang bisa menyesuaikan dengan format ukuran layar si user, maka dengan menggunakan full layout, desainer web bisa menggunakan seluruh kemampuannya untuk menaruh semua elemen di halaman tanpa terbatasi oleh ukuran lebar website. Namun selain itu, jika kita menggunakan ukuran font yang kecil pada full layout desain, maka akan terlihat overwhelming bagi user, karena harus menggeser kepala ketika membaca konten pada website, oleh sebab itu, lebih baik menggunakan font ukuran besar dari biasanya dan melakukan margin agak ke tengah konten agar user memiliki lebih banyak waktu bersanding di website (biar bounce out tidak banyak)

Sedangkan boxed layout biasanya digunakan sebagai alasan minimalistik dan simple, desain kondang ini telah berubah menjadi responsive, sehingga mudah digunakan disemua layar. Boxed layout sebetulnya bukan hanya isi website yang dipakaikan border, namun semua konten ada di posisi tengah, rapih dan memanjakan mata, juga tergantung kebutuhan website itu. Apakah ecommerce cocok menggunakan boxed layout? it depends, ada user yang suka dengan gambar besar dan resolusi tajam saat membeli produk riil, ada juga yang lebih senang simple dan minimal. ada.

Berikut data referensi tentang penggunaan ukuran layar diseluruh dunia : http://www.hobo-web.co.uk/best-screen-size/

Juga referensi lain terkait layout ukuran website : https://www.sitepoint.com/best-size-website/

Mensisipi Teknologi HTTP/2 ke Jetorbit

Sedang mencoba untuk bisa melakukan integrasi protokol paling baru http/2 ke semua server jetorbit. Apa sih bedanya HTTP versi 1 atau versi 1.1 dengan versi 2 ini? Monggo:

  • HTTP/2 is binary, instead of textual
  • HTTP/2 is fully multiplexed, instead of ordered and blocking
  • HTTP/2 can therefore use one connection for parallelism
  • HTTP/2 uses header compression to reduce overhead
  • HTTP/2 allows servers to ‘push’ responses proactively into client caches

Wish us luck!

Awal Mula Gerakan 1000 Startup di Indonesia

Indonesia sebagai follower yang berkiblat di Sillicon Valley sana mencoba mengikuti pergerakan startup teknologinya. Pemerintah mengeluarkan gerakan 1000 startup yang di telurkan dari kominfo untuk semua penggiat IT di seluruh indonesia. Ketika melihat ini, muncul ide lama yang sudah terbenam ingin disalurkan, karena alasan kurangnya sumber daya maka hari Sabtu lalu tepatnya tanggal 13 Agustus 2016, ikutlah saya menghandiri acara “pengapian”.

Acara ini meliputi sambutan dari bapak mentri kominfo sekarang, Pak Rudiantara serta beberapa pelaku industri startup dan umkm seperti SalesStock dan Dagadu. Ntah disadari atau tidak, panitia tidak menyiapkan hal terpenting di kegiatan ini, apa itu? Pengertian startup. Ya, panitia seharusnya tidak sekonyon konyong “mendudukkan” pemain startup yang sudah berjalan dan memberikan saran ini itu. Well, is that work? Kadang kala kita perlu membedakan definisi ini. Apa beda startup dengan UMKM? bagaimana kelanjutan startup nanti? apakah ingin mengejar market dalam jangka pendeknya dan long running nya bagaimana?

Proses “pengapian” tidak cukup dengan melihatkan jenis startup lain, yang notebane adalah “meng-online-kan usaha real”, namun juga merunut jenjang dari apa yang akan kita ciptakan. Ntah itu aplikasi murni, atau ada campur tangan barang riil. Namun dengan mengundang mentri kominfo untuk hadir di acaranya ini, saya salut akan perjuangan panitia. Tidak mudah mendatangkan mentri dalam acara.

Pada dasarnya startup didirikan untuk memecahkan masalah nyata. Terlihat familiar bukan? Bukan hanya startup, bahwa sesungguhnya teknologi atau mesin diciptakan/dibuat untuk menyederhanakan dan memecahkan masalah manusia. Kerja yang berulang ulang, disederhanakan. Kerja yang menghabiskan banyak SDM, dipangkas. Makin kesini masalah tersebut sudah hampir tidak bisa dilihat dengan sekilas pandang saja, namun harus dengan pendekatan tertentu, insting seseorang penggiat juga diperlukan. Innovasi menciptakan kemudahan, bukan justru mengubah output dari inovasi tersebut. Perubahan memang diperlukan untuk maju dan bertahan.

Jujur, saya tidak menyelesaikan acara Ignition ini sampai habis, why? ngantuk. maaf ya Bukan hanya saya saja, teman disamping depan kiri kanan pun menguam. Why? Karena sebetulnya kita-kita yang datang kesana ingin langsung gerak. Ini anak muda generasi x dan z ada di ruangan itu yang sifat perlu dimaklumkannya adalah cepat bosan. We need action, action yang tidak terlalu lama dibentangkan oleh tanggal yang jaraknya terpaut jauh antar kegiatan.

Tulisan saya bukan menyudutkan atau sejenisnya, tapi saya bangga dan ingin memberikan saran. Kenapa harus mengapikan mereka yang sudah berapi?

Mahardhika Gilang.

 

Bukan Robot

Hingar bingar acara kelulusan wisuda program sarjana 1 telah usai. Kala itu 2012 akhir. Setiap manusia yang ada di acara itu memiliki agenda sendiri. Sekarang atau mendatang. Yakin, sedikit yang merancangkan kegiatan masa mendatang hingga 3 sampai 5 tahun. Dan akhirnya pun, semua mengikuti waktu. Atau sebaliknya.

Waktu berlalu, catatan amal pun terus bergulir, sisi kiri maupun kanan. Masing-masing manusia hidup di atas tanah ini memiliki cara sendiri untuk menentukan masa depannya. Apa yang ingin dicapai, dan bagaimana cara mencapainya. Mungkin kamu bisa menebak, apa tujuan tulisan ini. Bukan, visi dan misi sudah dituliskan di sini. Lanjut.

Hapir semua makhluk yang ada di acara kelulusan tersebut “mengekor” perusahaan. Ya, kami sarjana, yang dulu oleh pemerintah terus ditingkatkan hasil sarjana ini karena mengejar lowongan perusahaan. Namun sekarang, kondisi terbalik. Sikut sana sini terjadi walau kasat mata, hanya untuk menduduki posisi “aman” dalam gedung kotak berisi para kaum urban berkemeja.

Did i say “aman?” Well yes. Kecenderungan pada rasa aman dalam bekerja ini memotivasi hampir seluruh pekerja di negri yang dulunya lumbung padi ini. Aman adalah mendapatkan gaji perbulannya. Aman mendapatkan perintah yang walau salah bisa bersembunyi dibalik kedok nama perusahaan. Aman terhadap status sosial yang akan dipertanyakan. Aman adalah menikmati reimburse yang ditawarkan perusahaan. Apakah kita pernah berpikir dibalik itu semua ada sistem yang berjalan? Ada “sumber” yang ikut tergerus?

Tiga tahun berlalu dan layakanya banyak orang bilang. Kutu loncat. Lompatan dahsyat dengan sekali sentakan mendarat di “punggung” perusahaan lain. Mulai dari sini adalah murni tulisan yang ditujukan kepada penulis.

Diri ini tidak pernah merasa puas, “sreg” dengan titah yang ditelurkan oleh orang yang tingkatannya lebih tinggi. Selalu ada tanda tanya besar dibalik semua perintah yang ada. Pernah ada tes kepribadian dan hasil yang muncul ada INTJ. Salah satunya mengatakan bahwa tipe ini adalah self-driving.

Sentakan pertama mendarat bukan di punggung. Melainkan pergi umroh. Ntah apa yang mendasari dari doa yang diucapkan, yang dilantunkan dan yang terus terngingang selama berada di tanah suci itu. Hingga akhirnya bisa memiliki lebih dari 500 klien. I wanna be the best, also.

Siapa yang terus berjalan? waktu. Ia terus menggerus dan menjadi saksi dari semua aksi di muka bumi. Tak terkecuali lulusan nyaris IP 3 ini. Berdiri mematung berhadapan dengan dirisendiri. Cermin.

Betul  tulisan di meme yang berlatar harimau mengaum, bahwa musuh dalam selimut yang siap menghantui dan menerkam adalah diri kita sendiri. Dalam penanggungan perusahaan, kita terus merasa aman akan apa yang ingin diharapkan, akan apa yang kita persiapkan dimasa depan. Namun ketika hentakan “kutu loncat” dan mendarat dengan teguh di kaki sendiri dengan name Entrepreneur, siapa yang lagi merasakan aman itu? Setiap tindakan, ucapan dan rencana adalah hasil dimasa depan yang akan diperhitungkan di alam baka nanti dan diperlihatkan di alam ini.

Lalu, tak sempat berpikir panjang adalah cara ceroboh yang akan meremukkan dalam sekejab rencana yang dipautkan. Melatih untuk berpikiri panjang mulai dari hal yang sederhana adalah cara terbaik untuk memulai.  Latih untuk berpikir 1,2,3 hingga 5 tahun kedepan. Tulis dan simpan baik baik dalam memori dan panjatkan doa untuk pengabulannya. Namun tanpa aksi hal ini jadi percuma.

Aksi adalah hal yang bisa mengubah hingga mengguncang dunia. Malas tidak. Ini musuh besar bagi yang berjalan sendiri atau istilah kerennya bootstrapping, atau memulai usaha sendiri. Beda, beda dengan ketika kaliam masih diperusahaan. Mau tidak mau pasti kerja, right?